Our Friendship:

Daisypath Friendship tickers

Tuesday, April 10, 2012

A kara Z made (B untuk bintang jatuh yang kulihat kemarin malam)


B untuk bintang jatuh yang kulihat kemarin malam. B itu berarti hari keduaku berada disini. B juga merupakan hari Senin. Dalam penanggalan, Senin itu berarti hari kedua dalam 1minggu di kalender dan dalam kamusku Senin itu berarti hari pintu surga tertutup serapat- rapatnya dan pintu neraka terbuka selebar- lebarnya, aku sering sial dihari Senin. Aku harus bertemu Mitsu pada hari ini dan bermain bersama dengannya. Aku juga ingin bertemu ibu lagi, sudah lama sekali aku tak menikmati masakannya.

Sepasang sepatu telah terpasang dikedua kakiku. Kumainkan tali sepatuku yang belum terikat itu dengan cara menggulung- gulungnya dengan kedua ujung sepatu. Tiba- tiba ayah mengejutkanku.
“Ohayou Mika- Chan…” seru ayah dengan nada suara mencoba meniru gaya bicaraku.
“Ohayou. Uhh ayah ngagetin aja”
“Loh? Mau kemana pagi- pagi begini?” Tanya ayah saat melihat ujung kakiku.
“Aku mau bertemu Mitsu” jawabku dengan ceria. Ayah tersenyum dan membelai rambutku.
“Tapi ini masih jam 7 pagi loh. Dan kamu sama sekali belum sarapan”
“Oh gomen nasai. Aku tak sabar bertemu Mitsu” jawabku menunduk.
“Ayo sarapan dulu, lagi pula ayah yakin sekali Mitsu mau berangkat sekolah jam segini” balasnya mengerutkan keningnya.
“Bagaimana ayah bisa tau?”
“Tentu saja ayah tau kebiasaan anak laki- laki ayah yang satu itu” jawab ayah kemudian menggendongku dan berputar- putar ditempat. Aku diperlakukan seperti anak SD. Dan dengan seketika aku menikmatinya. Ia menurunkanku dan aku pun melepas kedua sepatuku itu. Kemudian kuberlari keruang makan.

Saat sampai diruang makan, hampir saja aku terpeleset. Seseorang melirikku, “Hati- hati dong, Dolores. Kalau jatuh kan sakit” serunya dengan senyum nakal. Aku hanya terdiam sambil menggembungkan pipiku. Kududuk dikursi, tepat sidepannya. Hei, tunggu dulu. Tadi dia memanggilku Dolores? Itu kan tokoh yang di novel Lolita-ku. Kupandangi dirinya, dia pun memulai percakapan kembali.
“Kenapa? Nggak perlu segitunya juga ngeliatinnya kali”
“Yuuuuukkiiiii- kuuunnn, kamu baca novelku?” tanyaku penuh yakin.
“Ha. Nggak nyangka ya, seorang Mikarin- Chan si idola disekolah baca novel begituan. Ecchi” balasnya dengan mengangkat novelku dari bawah meja. Kuberanjak dari bangkuku dan mencoba merebut novelku kembali. Tetapi usahaku sia- sia, ayah terlanjur sampai diruang makan bersama ayahnya Yuki- Kun dan beberapa temannya yang lain. Yuki- kun adalah teman sekelasku yang juga merupakan anak teman ayahku. Aku bersahabat denganya sejak kelas 6SD.

Selesai makan, aku kembali membangkitkan niatku, aku ingin bertemu dengan Mitsu dan mengucapkan ‘Ohayou’ padanya. Selain itu aku ingin melihatnya mengenakan seragam SMP. Kupasang kembali kedua sepatu taliku itu, Yuki- Kun mengikutiku dari belakang.
“Mikarin- Chan. Ajak aku!” pintanya.
“Nggak. Nggak boleh”
“Yah, aku mau ikut”
“Nggak boleh, Yuki- Kun. Uruslah kegiatanmu sendiri” seruku.
“Emang mau kemana?”
“Mau kerumah seseorang yang paling special”
“Siapa? Emang kamu pernah kesini sebelumnya?”

Kulirik jam tanganku tanpa menghiraukan Yuki- Kun, 7.56. Sebentar lagi jam 8, dan kelas dimulai pukul 8.30. Aku ingin bertemu Mitsu pagi ini juga.
“hi- MI- TSU! … Aku duluan ya, Ja ne…” Putusku melesat hendak membuka pintu rumah.
“Kamu nggak mau ayahmu mengetahui anak perempuannya membaca novel ecchi kan?”
Ancaman  Yuki- Kun membuatku terpaksa membawanya serta. Lagipula disisi lain, aku ingin Yuki- Kun mengenal Mitsu.

Mitsu berada diluar rumah, hendak mau pergi kesekolah. Pas sekali. Aku berlari kearahnya. Yuki- Kun pun ikut mengejarku.
“MITSU!!!” seruku melambai tangan. Ia menoleh kearah sumber suara. Senyumnya melebar saat dia menyadari itu aku. Nafasku dan Yuki- Kun terengah- engah. Yuki- Kun terlihat berkeringat tapi untuk saat ini aku tak peduli dengan Yuki- Kun.
“Ohayou Mitsu”
“Ohayou Mikarin, Ohayou temannya Mika”
“Ohayou juga Mitsuuuu… HUWAAA MIRIPPPP” kejut Yuki- Kun yang membuat kami ikut terkejut. Ia bahkan sampai mundur kebelakang saking terkejutnya.
“Oh iya lupa, Yuki- Kun kenalin ini Mitsu saudara kembarku” seruku.

Mereka saling berkenalan. Yuki- Kun tampah sedikit menjadi lebih diam. Dan tersenyum saat Mitsu mengajaknya bicara.
“Oh ya, bentar lagi kelas dimulai. Aku berangkat dulu ya. Bai bai minna”

Aku pun berpisah dengan Mitsu pada hari ini juga. Tadinya aku mau mengajaknya bermain sepulang sekolah, tapi aku tak tahu dimana dia sekolah dan jam berapa dia pulang. Jadi kuputuskan bermain dengan Yuki- Kun seharian. Aku mengajaknya keliling- keliling desa.

to be continued

No comments:

Post a Comment

Next Post Previous Post Home