Ia menancapkan pisau belati itu kearahku dan mendorongku kejurang nun dalam.
“MA..MARIANA” seru laki- laki itu kepadaku. Ia semakin lama semakin terlihat jauh dariku. Mata merahnya seolah mebuatku seperti terhisap olehnya. Mata bagai batu ruby itu membuatku terpesona olehnnya. Semakin lama semakin tak terlihat
“Vound…”
***
Begitu tersadar aku berada disebuat asrama sekolah musik bernama Lustgarten Music Academy dikota London. Entah apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu, aku tak mengingatnya sama sekali. Kumerik kearah jam klasik disebelah sana, jam 11 pagi. Kepalaku terasa sakit, sepertinya aku telah mengalami kejadian hebat, tapi apa? Kenapa kepalaku diperban?
Seseorang mengetuk kamarku, siapa dia? Aku tak mengenalinya sama sekali. Yang kuingat dalam benakku hanya nama Vound. Wanita itu terlihat mengkhawatirkanku, beberapa kali ia bertanya “siapa namamu?”. Aku hanya menggelen tak tahu, seperti orang tersesat. Wanita itu mengizinkanku tinggal di asrama itu sampai aku mengenal jati diriku. Aku tersenyum menatapnya.
Aku berkeliling sekolah itu, cukup luas. Taman asri terlihat disana, kududuk dibanggu taman itu. Duduk membisu sambil bertanya- tanya siapa aku.
Drap… drap.. drap..
Suara langkah kaki mendekat, siapa itu? Seolah pertanyaan itu sudah melekat dalam benakku. Laki- laki itu duduk disampingku dan tersenyum. Membuatku kembali teringat dengan sebuah nama yaitu Vound.
“Siapa namamu? Aku tak pernah melihatmu” tanyanya ramah, matanya yang biru seperti Safire membuatku terpana. Indah sekali.
“Ngg.. nggak tahu”
“Kok nggak tahu? Kamu punya namakan?”
“Nggak”
“Bagaimana kalau aku memanggilmu Rosemary Varnish?”
“Hmmm…. Boleh saja. Siapa namamu?”
“Bill Muslest”
Itulah awal pertemuan kami. Sejak saat itu, aku dipanggil Rosemary oleh orang lain. Aku mulai belajar memainka biola dan bernyanyi. Tapi, ada sebuah lagu yang selalu membuatku teringat lagi dengan nama itu. Lagu itu berjudul The Sound of Music.
***
Suatu ketika, pandanganku tak bias lepas dari sebuah menara tua yang jaraknya 2 mill dari asrama. Beberapa kali ketatap menara itu, seperti ada seseorang yang memanggilku dari arah sana. Pada akhirnya kuputuskan untuk pergi kesana. Kuberjalan kesebuah tangga menara, menara yang tertutup tubuhan liar membuatku penasaran dengan tempat itu. Menjulang keatas sana, jauh tinggi. Kuterus melangkah perlahan- lahan satu demi satu anak tangga itu.
Pada anak tangga ke 1904, kumendengar alunan musik itu, musik yang membuatku merindukan seseorang walau terdengar samara- samar. “Vound…” kenapa nama itu selalu terngiang dikepalaku. Siapa itu Vound?
Musik itu semakin terdengar pada anak tangga ke 1967. Semakin lama nama itu menjadi- jadi dikepalaku. Anak tangga terakhir yang kupanjat yaitu 1981. Pintu besar dengan tumbuhan liar sekarng tepat didepanku. Kubuka pintu itu,
Krekkk….
“Mariana?” teriak lelaki itu dengan nada bicara kaget. Musik piano itu terhenti dinada mi.
“Mariana? Siapa itu Mariana? Namaku Rosemary”
“Kau… kau pasti Mariana” serunya menarik tangan kananku.
“Siapa kamu” tanyaku sambil meronta- ronta kesakitan.
Kupandangi mata merahnya, membuat nama “Vound” itu kembali hadir diingatanku. Ia terdiam, menatapku. Kemudian mendekatiku. Secara refleks kumelangkah mundur sampai menabrak dinding. Dia semakin dekat, semakin lama- semakin dekat, Wajahku memerah padam, jantungku berdetak kencang seperti mau mati. Dan akhirnya dia mundur. Melangkah mendekati pianonya dan melanjutkan lagu tadi.
“Kamu Mariana, bukan Rosemary” tambahnya.
Kepalaku terasa semakin sakit. Kenapa dia memanggilku Mariana? Kenapa? Apa dia mengenali diriku? Atau dia mengetahui masa laluku dengan seseorang yang bernama Vound.
“siapa engkau” tanyaku.
“Dirimu yang seharusnya menjawab, Mariana. Pergilah”.
“Tappiii…”
“Sudah kubilang pergi. Atau kamu mau kejadian dulu terulang?”
Aku berlari menuruni tangga itu, dengan rasa penasaran dengan pria itu tanpa memperhatikan langkahku hingga pada anak tangga ke 375 aku nyaris terjatuh. Aku kembali ketaman tempat aku bertemu Bill dulu. Tak ada seorang pun disana, hanya ada beberapa ekor serangga dan hewan- hewan lainnya. Aku terus menatap menara ini, dan bertanya- tanya “siapa pria itu?”.
“Rosemary?” sapa Amy Ducty, teman sekelasku dikelas musik yang kebetulan lewat.
“Hai Amy”
“Ada apa? Kok murung?”
“Ngg… siapa aku sebenarnya? Kenapa pria itu memanggilku Mariana?”
“Siapa?” tanyanya semakin penasaran.
Aku menceritakan kejadian yang baru kualami tadi, semuanya dari A sampai Z.
“Oh.. maksudmu, Vound Deckson, anak pemilik sekolah musis ini?”
“Vound…jadi nama pria itu Vound. Tapi kenapa dia memanggilku Maria…”
“Oh, maaf Rosemary. Aku harus pergi. Samapi nanti” potongnya dan lekas pergi meninggalkanku sendiri.
***
Aku menceritakan kejadian itu pada Bill. Bill hanya terdiam. Sepertinya ia mengenal siapa pria itu? Tapi ia selalu terdiam setiap aku bertanya- tanya tentang pria itu. Kenpa Bill? Apa engkau membenci pria itu?
“Seadainya saja engkau tahu. Betapa aku menyukaimu, Rosemary. Kau wanita yang baik”
“Be..benarkah?” Tanyaku ragu, aku tak percaya ia berkata seperti itu padaku.
“Tapppi… aku nggak merasa demikian” isakku dalam hati.
***
Setahun berlalu, kini usiaku 17 tahun. Aku masih belum ingat siapa diriku. Bahkan tanggal lahirku ditetapkan sesuai tanggal aku masuk sekolah ini. Taman itu begitu hening. Sepi tanpa suara manusia satupun, membuatku merindukan orang dimenara sana. Aku kembali naiki menara itu, menghitung satu- persatu anak tangganya sampai tiba dipintu itu.
“Ah, Mariana?” serunya menghentikan permainan pianonya dinada mi lagi. Kudekatkan wajahku kearahnya, menatap bola mata merahnya dan nama itu kembali muncul “Vound..”
Ia mendorang tubuhku perlahan. Kemudian mengelurkan kalung liontin emas dari kantongnya. Liontin? Sepertinya aku pernah mengalami kejadian ini dulu, atau hanya de javu. Tapi kenapa sebegitu persisnya?
Nama Mariana dan Vound kuncul dalaam benakku. Kepalaku semakin pusing, semakin lama semakin terasa sakit dan munculah kata cinta dalam benakku. Pria itu memelukku erat, semakin lama semakin erat sampai nyaris tak bisa bernafas dan berbisik “Maaf Mariana”.
“Kenapa?? Kenapa sepertinya aku punya masalalu denganmu? Tapi aku tak ingat. Siapa kamu?”
“Kamu bisa menjawabnya sendiri, suatu saat nanti”
“Tapi, pasti ada suatu hubungan antara kau dan aku. Aku merasa mengenalmu. Tapi, siapa engkau?
Wajahnya mendekatiku. Pandanganku mulai kosong, seperti terhisap bola mata merahnya. Aku hanya terdiam dengan muka memerah dan jantung berdetak kencang. Aku seakan tak bisa mundur lagi. Wajahnya semakin lama semakin dekat, dekat sekali dan akhirnya, kami berciuman dimenara itu serasa seperti pernah melakukan ini dengannya.
“Rosemary?” seru Bill menatapku bersama dengan pria itu.
“Bill. Kenapa kau bisa disini?” tanyaku gugup.
“Apa yang kau lakukan dengannya? Padahal kau belum pernah melakukan itu padaku” tambahnya dengan nada bicara marah.
Ia menarik lenganku dan menyeretku keluar.
“HENTIKAN BILL MUSLEST” perintah pria itu.
“DIAM KAU VOUND DECKSON” seru Bill dengan nada mengancam.
“Lepaskan Bill.. Sakit” seruku.
Bill melepaskan tarikannya. Lenganku memerah dan terasa sakit. Pria itu menatap lenganku dan menampar Bill. “Apa yang kau lakukan dengan Mariana. Aku tak bisa memaafkannya”
Mereka bertengkar. Kepalaku semakin terasa pusing. Hentikan…kepalaku semakin sakit. Dan munculah dialog pertama saat aku dan pria itu berkenalan,
“Aku… Vound Deckson. Siapa namamu?”
“Mmm… Mariana Winchen”
Ingatan masalaluku kembali, masa saat kami jatuh cinta satu sama lain. Dan aku ingat suatu kejadian yang membuatku hilang ingatan, saat itu umurku masih 16 tahun.
Seorang laki- laki bernama Bill Muslest melamarku dan akan menikahiku hari itu juga. Vound yang begitu marah dengan berita itu kemudian menculiku dan membawa kesebuah bukit tempat Vound nyaris mati. Pria itu mencari dan menemukan kami. Ia mengeluarkan pisau belati itu dan menusukkannya kearah Vound. Tapi aku malah melindunginya, dirikulah yang tertusuk dan jatuh kejurang.
***
“Vound..” sapaku.
Ia memelukku, seperti dulu pada tahun 1981. dan aku mulai sadar, mengapa jumlah anak tangga pada menara itu 1981. Karena perpisahan kami terjadi paad tahun itu, pas sekali.
“Marian aku akan membunuh Vound jika kau tidak mau menikah denganku” ancam Bill.
Ia menarikku turun tangga, pada tangga ke 101, ia terus menyeretku. Vound mengikutiku dari belakang dan menarik lengan tanganku sehingga Bill terpelanting dan jatuh sampai lantai dasar. Dia mati? Mungkin saja. Kini kami bertemu kembali disini, bernyanyi bersama lagu itu Dan selamanya akan bersama.
“MA..MARIANA” seru laki- laki itu kepadaku. Ia semakin lama semakin terlihat jauh dariku. Mata merahnya seolah mebuatku seperti terhisap olehnya. Mata bagai batu ruby itu membuatku terpesona olehnnya. Semakin lama semakin tak terlihat
“Vound…”
***
Begitu tersadar aku berada disebuat asrama sekolah musik bernama Lustgarten Music Academy dikota London. Entah apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu, aku tak mengingatnya sama sekali. Kumerik kearah jam klasik disebelah sana, jam 11 pagi. Kepalaku terasa sakit, sepertinya aku telah mengalami kejadian hebat, tapi apa? Kenapa kepalaku diperban?
Seseorang mengetuk kamarku, siapa dia? Aku tak mengenalinya sama sekali. Yang kuingat dalam benakku hanya nama Vound. Wanita itu terlihat mengkhawatirkanku, beberapa kali ia bertanya “siapa namamu?”. Aku hanya menggelen tak tahu, seperti orang tersesat. Wanita itu mengizinkanku tinggal di asrama itu sampai aku mengenal jati diriku. Aku tersenyum menatapnya.
Aku berkeliling sekolah itu, cukup luas. Taman asri terlihat disana, kududuk dibanggu taman itu. Duduk membisu sambil bertanya- tanya siapa aku.
Drap… drap.. drap..
Suara langkah kaki mendekat, siapa itu? Seolah pertanyaan itu sudah melekat dalam benakku. Laki- laki itu duduk disampingku dan tersenyum. Membuatku kembali teringat dengan sebuah nama yaitu Vound.
“Siapa namamu? Aku tak pernah melihatmu” tanyanya ramah, matanya yang biru seperti Safire membuatku terpana. Indah sekali.
“Ngg.. nggak tahu”
“Kok nggak tahu? Kamu punya namakan?”
“Nggak”
“Bagaimana kalau aku memanggilmu Rosemary Varnish?”
“Hmmm…. Boleh saja. Siapa namamu?”
“Bill Muslest”
Itulah awal pertemuan kami. Sejak saat itu, aku dipanggil Rosemary oleh orang lain. Aku mulai belajar memainka biola dan bernyanyi. Tapi, ada sebuah lagu yang selalu membuatku teringat lagi dengan nama itu. Lagu itu berjudul The Sound of Music.
***
Suatu ketika, pandanganku tak bias lepas dari sebuah menara tua yang jaraknya 2 mill dari asrama. Beberapa kali ketatap menara itu, seperti ada seseorang yang memanggilku dari arah sana. Pada akhirnya kuputuskan untuk pergi kesana. Kuberjalan kesebuah tangga menara, menara yang tertutup tubuhan liar membuatku penasaran dengan tempat itu. Menjulang keatas sana, jauh tinggi. Kuterus melangkah perlahan- lahan satu demi satu anak tangga itu.
Pada anak tangga ke 1904, kumendengar alunan musik itu, musik yang membuatku merindukan seseorang walau terdengar samara- samar. “Vound…” kenapa nama itu selalu terngiang dikepalaku. Siapa itu Vound?
Musik itu semakin terdengar pada anak tangga ke 1967. Semakin lama nama itu menjadi- jadi dikepalaku. Anak tangga terakhir yang kupanjat yaitu 1981. Pintu besar dengan tumbuhan liar sekarng tepat didepanku. Kubuka pintu itu,
Krekkk….
“Mariana?” teriak lelaki itu dengan nada bicara kaget. Musik piano itu terhenti dinada mi.
“Mariana? Siapa itu Mariana? Namaku Rosemary”
“Kau… kau pasti Mariana” serunya menarik tangan kananku.
“Siapa kamu” tanyaku sambil meronta- ronta kesakitan.
Kupandangi mata merahnya, membuat nama “Vound” itu kembali hadir diingatanku. Ia terdiam, menatapku. Kemudian mendekatiku. Secara refleks kumelangkah mundur sampai menabrak dinding. Dia semakin dekat, semakin lama- semakin dekat, Wajahku memerah padam, jantungku berdetak kencang seperti mau mati. Dan akhirnya dia mundur. Melangkah mendekati pianonya dan melanjutkan lagu tadi.
“Kamu Mariana, bukan Rosemary” tambahnya.
Kepalaku terasa semakin sakit. Kenapa dia memanggilku Mariana? Kenapa? Apa dia mengenali diriku? Atau dia mengetahui masa laluku dengan seseorang yang bernama Vound.
“siapa engkau” tanyaku.
“Dirimu yang seharusnya menjawab, Mariana. Pergilah”.
“Tappiii…”
“Sudah kubilang pergi. Atau kamu mau kejadian dulu terulang?”
Aku berlari menuruni tangga itu, dengan rasa penasaran dengan pria itu tanpa memperhatikan langkahku hingga pada anak tangga ke 375 aku nyaris terjatuh. Aku kembali ketaman tempat aku bertemu Bill dulu. Tak ada seorang pun disana, hanya ada beberapa ekor serangga dan hewan- hewan lainnya. Aku terus menatap menara ini, dan bertanya- tanya “siapa pria itu?”.
“Rosemary?” sapa Amy Ducty, teman sekelasku dikelas musik yang kebetulan lewat.
“Hai Amy”
“Ada apa? Kok murung?”
“Ngg… siapa aku sebenarnya? Kenapa pria itu memanggilku Mariana?”
“Siapa?” tanyanya semakin penasaran.
Aku menceritakan kejadian yang baru kualami tadi, semuanya dari A sampai Z.
“Oh.. maksudmu, Vound Deckson, anak pemilik sekolah musis ini?”
“Vound…jadi nama pria itu Vound. Tapi kenapa dia memanggilku Maria…”
“Oh, maaf Rosemary. Aku harus pergi. Samapi nanti” potongnya dan lekas pergi meninggalkanku sendiri.
***
Aku menceritakan kejadian itu pada Bill. Bill hanya terdiam. Sepertinya ia mengenal siapa pria itu? Tapi ia selalu terdiam setiap aku bertanya- tanya tentang pria itu. Kenpa Bill? Apa engkau membenci pria itu?
“Seadainya saja engkau tahu. Betapa aku menyukaimu, Rosemary. Kau wanita yang baik”
“Be..benarkah?” Tanyaku ragu, aku tak percaya ia berkata seperti itu padaku.
“Tapppi… aku nggak merasa demikian” isakku dalam hati.
***
Setahun berlalu, kini usiaku 17 tahun. Aku masih belum ingat siapa diriku. Bahkan tanggal lahirku ditetapkan sesuai tanggal aku masuk sekolah ini. Taman itu begitu hening. Sepi tanpa suara manusia satupun, membuatku merindukan orang dimenara sana. Aku kembali naiki menara itu, menghitung satu- persatu anak tangganya sampai tiba dipintu itu.
“Ah, Mariana?” serunya menghentikan permainan pianonya dinada mi lagi. Kudekatkan wajahku kearahnya, menatap bola mata merahnya dan nama itu kembali muncul “Vound..”
Ia mendorang tubuhku perlahan. Kemudian mengelurkan kalung liontin emas dari kantongnya. Liontin? Sepertinya aku pernah mengalami kejadian ini dulu, atau hanya de javu. Tapi kenapa sebegitu persisnya?
Nama Mariana dan Vound kuncul dalaam benakku. Kepalaku semakin pusing, semakin lama semakin terasa sakit dan munculah kata cinta dalam benakku. Pria itu memelukku erat, semakin lama semakin erat sampai nyaris tak bisa bernafas dan berbisik “Maaf Mariana”.
“Kenapa?? Kenapa sepertinya aku punya masalalu denganmu? Tapi aku tak ingat. Siapa kamu?”
“Kamu bisa menjawabnya sendiri, suatu saat nanti”
“Tapi, pasti ada suatu hubungan antara kau dan aku. Aku merasa mengenalmu. Tapi, siapa engkau?
Wajahnya mendekatiku. Pandanganku mulai kosong, seperti terhisap bola mata merahnya. Aku hanya terdiam dengan muka memerah dan jantung berdetak kencang. Aku seakan tak bisa mundur lagi. Wajahnya semakin lama semakin dekat, dekat sekali dan akhirnya, kami berciuman dimenara itu serasa seperti pernah melakukan ini dengannya.
“Rosemary?” seru Bill menatapku bersama dengan pria itu.
“Bill. Kenapa kau bisa disini?” tanyaku gugup.
“Apa yang kau lakukan dengannya? Padahal kau belum pernah melakukan itu padaku” tambahnya dengan nada bicara marah.
Ia menarik lenganku dan menyeretku keluar.
“HENTIKAN BILL MUSLEST” perintah pria itu.
“DIAM KAU VOUND DECKSON” seru Bill dengan nada mengancam.
“Lepaskan Bill.. Sakit” seruku.
Bill melepaskan tarikannya. Lenganku memerah dan terasa sakit. Pria itu menatap lenganku dan menampar Bill. “Apa yang kau lakukan dengan Mariana. Aku tak bisa memaafkannya”
Mereka bertengkar. Kepalaku semakin terasa pusing. Hentikan…kepalaku semakin sakit. Dan munculah dialog pertama saat aku dan pria itu berkenalan,
“Aku… Vound Deckson. Siapa namamu?”
“Mmm… Mariana Winchen”
Ingatan masalaluku kembali, masa saat kami jatuh cinta satu sama lain. Dan aku ingat suatu kejadian yang membuatku hilang ingatan, saat itu umurku masih 16 tahun.
Seorang laki- laki bernama Bill Muslest melamarku dan akan menikahiku hari itu juga. Vound yang begitu marah dengan berita itu kemudian menculiku dan membawa kesebuah bukit tempat Vound nyaris mati. Pria itu mencari dan menemukan kami. Ia mengeluarkan pisau belati itu dan menusukkannya kearah Vound. Tapi aku malah melindunginya, dirikulah yang tertusuk dan jatuh kejurang.
***
“Vound..” sapaku.
Ia memelukku, seperti dulu pada tahun 1981. dan aku mulai sadar, mengapa jumlah anak tangga pada menara itu 1981. Karena perpisahan kami terjadi paad tahun itu, pas sekali.
“Marian aku akan membunuh Vound jika kau tidak mau menikah denganku” ancam Bill.
Ia menarikku turun tangga, pada tangga ke 101, ia terus menyeretku. Vound mengikutiku dari belakang dan menarik lengan tanganku sehingga Bill terpelanting dan jatuh sampai lantai dasar. Dia mati? Mungkin saja. Kini kami bertemu kembali disini, bernyanyi bersama lagu itu Dan selamanya akan bersama.

Mariana Winchen

