Our Friendship:

Daisypath Friendship tickers

Friday, April 20, 2012

 A kara Z made (C untuk Camellia, sebuah nama indah bagai melodi)


C untuk Camellia, sebuah nama indah bagai melodi. Sebuah nama yang melambangkan seorang gadis. Sebuah nama bunga yang hampir menyerupai mawar, tetapi dahannya berbeda. Camellia tak memiliki duri seperti mawar. Camellia berbeda dari mawar yang rupanya menawan dan elegan. Walaupun begitu, Camellia itu indah meski bukan bunga cinta, tetapi ia termasuk tanaman teh.

Aku menemukan tumbuhan Camellia sewaktu perjalanan kesekolah baruku. Dia tumbuh cantik sekali, aku tak tahu siapa memiliknya, tetapi sepertinya dia tumbuh bebas tanpa terikat siapa- siapa. Hari ini ayah memutuskan untuk memasukkanku kesalah satu SMP negeri terbaik disini. Sebelum berangkat, ayah meminta surat pindah sementara di sekolah lamaku. Ayah tak mau aku ketinggalan pelajaran, selain itu agar aku tak bosan di Yoshino. Aku terima tawaran itu. Pagi itu, aku dan Yuki- kun serta ayahku bergegas menuju sekolah baruku, Touho Gakuen. Aku cukup puas meski tak sebesar sekolahku dulu.

Aku masuk dikelas 2- 1 sedangkan Yuki- Kun 2- 3. Hanya kelas itu yang kapasitas siswanya belum melebihi. Letak kelas kami tak berjauhan, jadi tentu saja saat istirahat aku dan Yuki- kun masih bisa bertemu.
“Perkenalkan, aku Mikarin. Akai Mikarin. Salam kenal” seruku memperkenalkan diri. Penghuni kelas 2- 1 menyambutku dengan baik, begitu pula walikelas yang mempersilahkanku masuk tadi. Aku tersenyum ramah pada mereka.
“Baiklah Akai- san, silahkan duduk dibangku kosong sana. Disamping Kyoshita- Kun” seru wali kelasku sambil menunjuk kursi paling belakang ujung samping jendela. Anak laki- laki itu tersenyum padaku sambil menunjuk kursiku. Aku terdiam, senyumku yang awal mekar kini menciut. Nama keluarga Mitsu Kyoshita?
“Hehe Mikarin, nggak nyangka kamu bakal masuk SMP sini” sapanya saat aku sudah duduk disebelahnya.
“Iya, Kyoshita- kun” jawabku singkat.
“Hei! Panggil aku seperti biasa!”

Aku diamkan dia dan mencoba serius dengan pelajaran. Pelajaran sedang berlangsung. Mitsu terdiam, sekilas kulirikkan mataku kearahnya, dia menggigit bibir bawahnya sambil menulis sesuatu. Kurahap dia tak menulis namaku didalam buku Death Note.
Mitshu melipat kertas itu dan melemparnya kearahku, “Mika… jangan marah padaku”. Kubalas suratnya, “MITSU JAHAT! GANTI- GANTI NAMA KELUARGA TANPA SEPENGETAHUANKU!!!!!”. Kuharap dia tahu betapa kesalnya diriku sekarang, dia terdiam dan agak lama menulis suratnya. Hingga 5 menit kemudian baru kuterima balasan, “Nanti istirahat aku jelasin”.

Saat istirahat, Mitsu mengajakku keatap sekolah, padahal tadi sebelum berangkat aku sudah janji sama Yuki- Kun istirahat bersama, tetapi seperyinya harus kubatalkan janjiku. Ia menutup pintu rapat- rapat. Aku sedikit tegang, wajahnya menjadi serius.
“Mika, kamu tau nggak, atep sekolah itu tempat orang ciuman” serunya. Aku menatapnya dengan aneh.
“Oh maaf refleks, abis nonton drama tadi malam” tambahnya lagi dengan wajam memerah yang ditutupi tangan.

Kuberdiri dipinggiran pagar atap sambil menatap sekita, Mitsu disamping kiriku. Ia kembali membuka percakapan.
“Mika, ibu menikah lagi setahun setelah cerai dengan ayah”
“Kenapa nggak beritahu aku?”
“Maaf, aku tak tahu alamatmu dan nomor telpon di Tokyo”

Kudiam merenung, kurasa nggak sepenuhnya salah Mitsu dan ibu. Mereka ingin memberitahuku tetapi tak tahu alamat yang bisa dihubungi. Kukembali mendengar penjelasan Mitsu.
“Terus kamu iya iya aja ibu menikah lagi?” tanyaku memalingkan wajah.
“Tentu saja tidak. Awalnya aku sangat tidak setuju sampai aku kabur dari rumah. Tadinya aku mau kerumahmu tapi tak tahu alamat dan lagi Tokyo itu luas sekali. Akhirnya aku kabur kerumah temanku. Tapi karena ibu memohon padaku dan aku kasihan padanya ya kurelakan ia menikah lagi”
“Oh. Tenang saja, ayah tak menikah lagi. Karena perempuan yang ayah cintai hanya aku” jawabku penuh percaya diri.
“Hehe. Ayah pria yang baik”
“Apa ayah barumu baik padamu?”
“Mikuro- San baik tetapi laki- laki paling baik sedunia sudah pasti ayah” balasnya. Aku tersenyum senang, aku senang Mitsu masih sama seperti dulu. Ia mencubit pipiku dengan ekspresi konyol.
“Mika nggak berubah, masih imut kayak dulu. Masih suka cepet marah kayak dulu”.
“Ihh apaan sih Mitsu” balasku sambil memukul Mitsu hingga kakiku terpeleset. Aku pun jatuh menimpanya badannya.

Tiba- tiba seseorang membuka pintu atap. Yuki- kun ternyata. Tiba- tiba wajahnya memerah, dan tangannya bergetar menunjuk kami sambil berkomat- kamit, “eeee….eeccchiii”. Aku pun terdiam sesaat dan tiba- tiba baru sadar dengan apa yang kulakukan.
“Mikarin- chan ecchi, nggak nyangka kamu demen sama cinta terlarang kayak di novelmu”
“Ya ampun Yuki- Kun ini nggak seperti yang kamu liat” balasku gugup dan bangkit dari posisi. Kuberjalan kearah sampingnya. Mitsu masih dalam posisi terlentang.
“Tadi Mika jatuh menimpaku, tenang aja aku nggak ciuman sama dia kok. Jadi jangan khawatir yah pangeran” Mitsu berdiri meninggalkan kami berdua. Aku dan Yuki- kun berpandangan. Yuki- kun pun memecah keheningan.
“Tau nggak, atep sekolah itu tempat orang ciuman”
Aku pun serasa de javu.

Tuesday, April 10, 2012

 A kara Z made (B untuk bintang jatuh yang kulihat kemarin malam)


B untuk bintang jatuh yang kulihat kemarin malam. B itu berarti hari keduaku berada disini. B juga merupakan hari Senin. Dalam penanggalan, Senin itu berarti hari kedua dalam 1minggu di kalender dan dalam kamusku Senin itu berarti hari pintu surga tertutup serapat- rapatnya dan pintu neraka terbuka selebar- lebarnya, aku sering sial dihari Senin. Aku harus bertemu Mitsu pada hari ini dan bermain bersama dengannya. Aku juga ingin bertemu ibu lagi, sudah lama sekali aku tak menikmati masakannya.

Sepasang sepatu telah terpasang dikedua kakiku. Kumainkan tali sepatuku yang belum terikat itu dengan cara menggulung- gulungnya dengan kedua ujung sepatu. Tiba- tiba ayah mengejutkanku.
“Ohayou Mika- Chan…” seru ayah dengan nada suara mencoba meniru gaya bicaraku.
“Ohayou. Uhh ayah ngagetin aja”
“Loh? Mau kemana pagi- pagi begini?” Tanya ayah saat melihat ujung kakiku.
“Aku mau bertemu Mitsu” jawabku dengan ceria. Ayah tersenyum dan membelai rambutku.
“Tapi ini masih jam 7 pagi loh. Dan kamu sama sekali belum sarapan”
“Oh gomen nasai. Aku tak sabar bertemu Mitsu” jawabku menunduk.
“Ayo sarapan dulu, lagi pula ayah yakin sekali Mitsu mau berangkat sekolah jam segini” balasnya mengerutkan keningnya.
“Bagaimana ayah bisa tau?”
“Tentu saja ayah tau kebiasaan anak laki- laki ayah yang satu itu” jawab ayah kemudian menggendongku dan berputar- putar ditempat. Aku diperlakukan seperti anak SD. Dan dengan seketika aku menikmatinya. Ia menurunkanku dan aku pun melepas kedua sepatuku itu. Kemudian kuberlari keruang makan.

Saat sampai diruang makan, hampir saja aku terpeleset. Seseorang melirikku, “Hati- hati dong, Dolores. Kalau jatuh kan sakit” serunya dengan senyum nakal. Aku hanya terdiam sambil menggembungkan pipiku. Kududuk dikursi, tepat sidepannya. Hei, tunggu dulu. Tadi dia memanggilku Dolores? Itu kan tokoh yang di novel Lolita-ku. Kupandangi dirinya, dia pun memulai percakapan kembali.
“Kenapa? Nggak perlu segitunya juga ngeliatinnya kali”
“Yuuuuukkiiiii- kuuunnn, kamu baca novelku?” tanyaku penuh yakin.
“Ha. Nggak nyangka ya, seorang Mikarin- Chan si idola disekolah baca novel begituan. Ecchi” balasnya dengan mengangkat novelku dari bawah meja. Kuberanjak dari bangkuku dan mencoba merebut novelku kembali. Tetapi usahaku sia- sia, ayah terlanjur sampai diruang makan bersama ayahnya Yuki- Kun dan beberapa temannya yang lain. Yuki- kun adalah teman sekelasku yang juga merupakan anak teman ayahku. Aku bersahabat denganya sejak kelas 6SD.

Selesai makan, aku kembali membangkitkan niatku, aku ingin bertemu dengan Mitsu dan mengucapkan ‘Ohayou’ padanya. Selain itu aku ingin melihatnya mengenakan seragam SMP. Kupasang kembali kedua sepatu taliku itu, Yuki- Kun mengikutiku dari belakang.
“Mikarin- Chan. Ajak aku!” pintanya.
“Nggak. Nggak boleh”
“Yah, aku mau ikut”
“Nggak boleh, Yuki- Kun. Uruslah kegiatanmu sendiri” seruku.
“Emang mau kemana?”
“Mau kerumah seseorang yang paling special”
“Siapa? Emang kamu pernah kesini sebelumnya?”

Kulirik jam tanganku tanpa menghiraukan Yuki- Kun, 7.56. Sebentar lagi jam 8, dan kelas dimulai pukul 8.30. Aku ingin bertemu Mitsu pagi ini juga.
“hi- MI- TSU! … Aku duluan ya, Ja ne…” Putusku melesat hendak membuka pintu rumah.
“Kamu nggak mau ayahmu mengetahui anak perempuannya membaca novel ecchi kan?”
Ancaman  Yuki- Kun membuatku terpaksa membawanya serta. Lagipula disisi lain, aku ingin Yuki- Kun mengenal Mitsu.

Mitsu berada diluar rumah, hendak mau pergi kesekolah. Pas sekali. Aku berlari kearahnya. Yuki- Kun pun ikut mengejarku.
“MITSU!!!” seruku melambai tangan. Ia menoleh kearah sumber suara. Senyumnya melebar saat dia menyadari itu aku. Nafasku dan Yuki- Kun terengah- engah. Yuki- Kun terlihat berkeringat tapi untuk saat ini aku tak peduli dengan Yuki- Kun.
“Ohayou Mitsu”
“Ohayou Mikarin, Ohayou temannya Mika”
“Ohayou juga Mitsuuuu… HUWAAA MIRIPPPP” kejut Yuki- Kun yang membuat kami ikut terkejut. Ia bahkan sampai mundur kebelakang saking terkejutnya.
“Oh iya lupa, Yuki- Kun kenalin ini Mitsu saudara kembarku” seruku.

Mereka saling berkenalan. Yuki- Kun tampah sedikit menjadi lebih diam. Dan tersenyum saat Mitsu mengajaknya bicara.
“Oh ya, bentar lagi kelas dimulai. Aku berangkat dulu ya. Bai bai minna”

Aku pun berpisah dengan Mitsu pada hari ini juga. Tadinya aku mau mengajaknya bermain sepulang sekolah, tapi aku tak tahu dimana dia sekolah dan jam berapa dia pulang. Jadi kuputuskan bermain dengan Yuki- Kun seharian. Aku mengajaknya keliling- keliling desa.

to be continued

Tuesday, March 13, 2012

 A kara Z made (A untuk Awal Petualanganku)

Okey Minna, gommen sebelumnya udah lama nggak muncul disini a.k.a make stories ^^
Kali ini saya mau remake sebuah cerpen karangan pas SMP yang nggak penah kelar sampai sekarang =,="||
(judul awal "A- Z di Yoshino"). Baru- baru ini entah mengapa akhirnya tertarik lagi sama cerita ini, dan niatnya mau remake bukan ngelanjut -__- karena entah mengapa menurut saya terlalu banyak kesalahan.

Saya banyak mengganti setting dan penambahan beberapa tokoh. 

So, okey mulai~!!
--------------------------------------------------------------------------------------------


A kara Z made, From A to Z

Kisahku dimulai disini, disebuah daerah di wilayah Kanzai bernama Yoshino di Prefektur Nara. Daerah yang setiap musim semi selalu dipenuhi dengan bunga sakura, bunga terindah sepanjang masa. Bagiku ini merupakan tempat penuh kenangan bersama Mitsu dan tempat kelahiranku. Tepat 3 tahun yang lalu saat musim semi, ayah dan ibuku bercerai. Aku ikut ayah ke Tokyo sedangkan Mitsu ikut ibu tinggal di Yoshino. Sekarang hampir memasuki musim dingin dan kebetulan sekali ayah dipindah tugaskan selama 26 hari ke Yoshino. Sekalian liburan juga sih. 26 seperti jumlah Alphabet pada abjad Inggris A sampai Z.



A untuk awal petualanganku. Setibanya di Yoshino, kubergegas berlari ketaman tempat aku bermain dengannya dulu. Suasana masih tetap sama, sepi dan menyejukkan. Tataan rupa tidak banyak berubah.  Aku tersenyum haru, kini aku akan mengulangi masalalu bahagiaku saat masih sekolah dasar dulu. Kududuk dibangku taman dibawah pohon sakura sambil melanjutkan novel yang berjudul Lolita karya Vladimir Nabokov (Rusia). Novel itu berkisah tentang pengakuan seorang professor setengah baya bernama Humbert Hambert yang terobsesi kepada seorang gadis remaja, Dolores Haze- Sang Lolita. Untuk bisa berdekatan dengan Dolores, Humbert menikahi ibu gadis itu. Setelah sang ibu tewas dalam kecelakaan, Humbert membawa anak tirinya berkelana mengelilingi Amerika Serikat, menikmati cinta terlarang dengan segala manis getirnya. Angis semakin bertiup lembut membuatku mengantuk. Mataku sayup- sayup, dan lama- kelamaan tertutup. Dimulailah petualangan didunia mimpi.

Tak lama seseorang berbisik ditelingaku, “Hei… bangun, sudah sore loh”. Aku tak kunjung sadar. Dia mengguncang tubuhku yang membuatku merasa terganggu. Aku pun terbangun.
“Ngg… maaf aku ketiduran” jawabku setengah sadar sambil mengusap sebelah mata.
“Loh? Mikarin?”
“Iya aku Mikarin. Kok kamu tahu namaku?” balasku sedikit kaget dengan keadaan masih setengah sadar. Kupandangi anak laki- laki itu. Wajahnya sangat tidak asing bagiku.
“Aku Mitsu, ingat?”
“Hah? Mitsu? Kamu Mitsu?” responku kaget. Dia tersenyum manis padaku. Wajahnya sedikit berubah tetapi mirip denganku, tambah dewasa tetapi tingginya masih lebih pendek dariku. Padahal dulu tinggi kami sama.
“Hehe… Mikarin kok di Yoshino?”
“Iya, ayah ada kerjaan disini jadi aku ikut. Lagian aku mau ketemu sama orang paling jelek sedunia, bwee”
“Idih kalau aku paling jelek sedunia, Mikarin juga paling jelek sedunia dong” ejeknya. Akupun tertawa geli. Sudah lama tak merasakan tawa seperti ini.

Kami bercerita banyak hal, mulai dari hari pertamaku tanpa Mitsu hingga keadaan sekolahku yang sekarang. Dia tetap tersenyum bahagia. Hingga akhirnya langit yang semula orange kekuningan kini menjadi lembayung tanda hamper malam. Celaka, tadi aku janji sama ayah pulang jam 5. “Sampai jumpa Mikarin”, itulah kalimat perpisahan kami hari ini.

Aku kembali kerumah rekan  kerja ayah. Aku bercerita pada ayah kalau hari ini aku bertemu Mitsu di taman. Ayah memberi respon bagus. Aku senang ayah tidak marah aku bertemu Mitsu. Dia juga memperbolehkanku sesekali menginap dirumah Mitsu, bagaimanapun juga dia masih anak ayah dan Mitsu juga saudara kembarku.

Malam ini langin terlihat cerah dipenuhi bintang- bintang. Jarang sekali kulihat pemandangan seperti ini di Tokyo. Langit penuh berlian itu seolah mengembalikan masalaluku sesaat. “Wah ada bintang jahut. Aku harap bias menghabiskan 25 hari lagi bersama Mitsu di Yoshino”, semoga saja harapanku terkabul.

to be continued

Next Post Previous Post Home