C untuk Camellia, sebuah nama indah bagai melodi. Sebuah
nama yang melambangkan seorang gadis. Sebuah nama bunga yang hampir menyerupai
mawar, tetapi dahannya berbeda. Camellia tak memiliki duri seperti mawar.
Camellia berbeda dari mawar yang rupanya menawan dan elegan. Walaupun begitu,
Camellia itu indah meski bukan bunga cinta, tetapi ia termasuk tanaman teh.
Aku menemukan tumbuhan Camellia sewaktu perjalanan kesekolah
baruku. Dia tumbuh cantik sekali, aku tak tahu siapa memiliknya, tetapi
sepertinya dia tumbuh bebas tanpa terikat siapa- siapa. Hari ini ayah
memutuskan untuk memasukkanku kesalah satu SMP negeri terbaik disini. Sebelum
berangkat, ayah meminta surat pindah sementara di sekolah lamaku. Ayah tak mau
aku ketinggalan pelajaran, selain itu agar aku tak bosan di Yoshino. Aku terima
tawaran itu. Pagi itu, aku dan Yuki- kun serta ayahku bergegas menuju sekolah
baruku, Touho Gakuen. Aku cukup puas meski tak sebesar sekolahku dulu.
Aku masuk dikelas 2- 1 sedangkan Yuki- Kun 2- 3. Hanya kelas
itu yang kapasitas siswanya belum melebihi. Letak kelas kami tak berjauhan,
jadi tentu saja saat istirahat aku dan Yuki- kun masih bisa bertemu.
“Perkenalkan, aku Mikarin. Akai Mikarin. Salam kenal” seruku
memperkenalkan diri. Penghuni kelas 2- 1 menyambutku dengan baik, begitu pula
walikelas yang mempersilahkanku masuk tadi. Aku tersenyum ramah pada mereka.
“Baiklah Akai- san, silahkan duduk dibangku kosong sana.
Disamping Kyoshita- Kun” seru wali kelasku sambil menunjuk kursi paling
belakang ujung samping jendela. Anak laki- laki itu tersenyum padaku sambil
menunjuk kursiku. Aku terdiam, senyumku yang awal mekar kini menciut. Nama
keluarga Mitsu Kyoshita?
“Hehe Mikarin, nggak nyangka kamu bakal masuk SMP sini”
sapanya saat aku sudah duduk disebelahnya.
“Iya, Kyoshita- kun” jawabku singkat.
“Hei! Panggil aku seperti biasa!”
Aku diamkan dia dan mencoba serius dengan pelajaran.
Pelajaran sedang berlangsung. Mitsu terdiam, sekilas kulirikkan mataku kearahnya,
dia menggigit bibir bawahnya sambil menulis sesuatu. Kurahap dia tak menulis
namaku didalam buku Death Note.
Mitshu melipat kertas itu dan melemparnya kearahku, “Mika…
jangan marah padaku”. Kubalas suratnya, “MITSU JAHAT! GANTI- GANTI NAMA KELUARGA
TANPA SEPENGETAHUANKU!!!!!”. Kuharap dia tahu betapa kesalnya diriku sekarang,
dia terdiam dan agak lama menulis suratnya. Hingga 5 menit kemudian baru
kuterima balasan, “Nanti istirahat aku jelasin”.
Saat istirahat, Mitsu mengajakku keatap sekolah, padahal
tadi sebelum berangkat aku sudah janji sama Yuki- Kun istirahat bersama, tetapi
seperyinya harus kubatalkan janjiku. Ia menutup pintu rapat- rapat. Aku sedikit
tegang, wajahnya menjadi serius.
“Mika, kamu tau nggak, atep sekolah itu tempat orang ciuman”
serunya. Aku menatapnya dengan aneh.
“Oh maaf refleks, abis nonton drama tadi malam” tambahnya
lagi dengan wajam memerah yang ditutupi tangan.
Kuberdiri dipinggiran pagar atap sambil menatap sekita,
Mitsu disamping kiriku. Ia kembali membuka percakapan.
“Mika, ibu menikah lagi setahun setelah cerai dengan ayah”
“Kenapa nggak beritahu aku?”
“Maaf, aku tak tahu alamatmu dan nomor telpon di Tokyo”
Kudiam merenung, kurasa nggak sepenuhnya salah Mitsu dan
ibu. Mereka ingin memberitahuku tetapi tak tahu alamat yang bisa dihubungi.
Kukembali mendengar penjelasan Mitsu.
“Terus kamu iya iya aja ibu menikah lagi?” tanyaku
memalingkan wajah.
“Tentu saja tidak. Awalnya aku sangat tidak setuju sampai
aku kabur dari rumah. Tadinya aku mau kerumahmu tapi tak tahu alamat dan lagi
Tokyo itu luas sekali. Akhirnya aku kabur kerumah temanku. Tapi karena ibu
memohon padaku dan aku kasihan padanya ya kurelakan ia menikah lagi”
“Oh. Tenang saja, ayah tak menikah lagi. Karena perempuan
yang ayah cintai hanya aku” jawabku penuh percaya diri.
“Hehe. Ayah pria yang baik”
“Apa ayah barumu baik padamu?”
“Mikuro- San baik tetapi laki- laki paling baik sedunia
sudah pasti ayah” balasnya. Aku tersenyum senang, aku senang Mitsu masih sama
seperti dulu. Ia mencubit pipiku dengan ekspresi konyol.
“Mika nggak berubah, masih imut kayak dulu. Masih suka cepet
marah kayak dulu”.
“Ihh apaan sih Mitsu” balasku sambil memukul Mitsu hingga
kakiku terpeleset. Aku pun jatuh menimpanya badannya.
Tiba- tiba seseorang membuka pintu atap. Yuki- kun ternyata.
Tiba- tiba wajahnya memerah, dan tangannya bergetar menunjuk kami sambil
berkomat- kamit, “eeee….eeccchiii”. Aku pun terdiam sesaat dan tiba- tiba baru
sadar dengan apa yang kulakukan.
“Mikarin- chan ecchi, nggak nyangka kamu demen sama cinta terlarang
kayak di novelmu”
“Ya ampun Yuki- Kun ini nggak seperti yang kamu liat”
balasku gugup dan bangkit dari posisi. Kuberjalan kearah sampingnya. Mitsu
masih dalam posisi terlentang.
“Tadi Mika jatuh menimpaku, tenang aja aku nggak ciuman sama
dia kok. Jadi jangan khawatir yah pangeran” Mitsu berdiri meninggalkan kami
berdua. Aku dan Yuki- kun berpandangan. Yuki- kun pun memecah keheningan.
“Tau nggak, atep sekolah itu tempat orang ciuman”
Aku pun serasa de javu.

A kara Z made (C untuk Camellia, sebuah nama indah bagai melodi)
