Okey Minna, gommen sebelumnya udah lama nggak muncul disini a.k.a make stories ^^
Kali ini saya mau remake sebuah cerpen karangan pas SMP yang nggak penah kelar sampai sekarang =,="||
(judul awal "A- Z di Yoshino"). Baru- baru ini entah mengapa akhirnya tertarik lagi sama cerita ini, dan niatnya mau remake bukan ngelanjut -__- karena entah mengapa menurut saya terlalu banyak kesalahan.
Saya banyak mengganti setting dan penambahan beberapa tokoh.
So, okey mulai~!!
--------------------------------------------------------------------------------------------
Kali ini saya mau remake sebuah cerpen karangan pas SMP yang nggak penah kelar sampai sekarang =,="||
(judul awal "A- Z di Yoshino"). Baru- baru ini entah mengapa akhirnya tertarik lagi sama cerita ini, dan niatnya mau remake bukan ngelanjut -__- karena entah mengapa menurut saya terlalu banyak kesalahan.
Saya banyak mengganti setting dan penambahan beberapa tokoh.
So, okey mulai~!!
--------------------------------------------------------------------------------------------
A kara Z made, From A to Z
Kisahku dimulai disini, disebuah daerah di wilayah Kanzai bernama Yoshino di Prefektur Nara. Daerah yang setiap musim semi selalu dipenuhi dengan bunga sakura, bunga terindah sepanjang masa. Bagiku ini merupakan tempat penuh kenangan bersama Mitsu dan tempat kelahiranku. Tepat 3 tahun yang lalu saat musim semi, ayah dan ibuku bercerai. Aku ikut ayah ke Tokyo sedangkan Mitsu ikut ibu tinggal di Yoshino. Sekarang hampir memasuki musim dingin dan kebetulan sekali ayah dipindah tugaskan selama 26 hari ke Yoshino. Sekalian liburan juga sih. 26 seperti jumlah Alphabet pada abjad Inggris A sampai Z.
A untuk awal petualanganku. Setibanya di Yoshino, kubergegas berlari ketaman tempat aku bermain dengannya dulu. Suasana masih tetap sama, sepi dan menyejukkan. Tataan rupa tidak banyak berubah. Aku tersenyum haru, kini aku akan mengulangi masalalu bahagiaku saat masih sekolah dasar dulu. Kududuk dibangku taman dibawah pohon sakura sambil melanjutkan novel yang berjudul Lolita karya Vladimir Nabokov (Rusia). Novel itu berkisah tentang pengakuan seorang professor setengah baya bernama Humbert Hambert yang terobsesi kepada seorang gadis remaja, Dolores Haze- Sang Lolita. Untuk bisa berdekatan dengan Dolores, Humbert menikahi ibu gadis itu. Setelah sang ibu tewas dalam kecelakaan, Humbert membawa anak tirinya berkelana mengelilingi Amerika Serikat, menikmati cinta terlarang dengan segala manis getirnya. Angis semakin bertiup lembut membuatku mengantuk. Mataku sayup- sayup, dan lama- kelamaan tertutup. Dimulailah petualangan didunia mimpi.
Tak lama seseorang berbisik ditelingaku, “Hei… bangun, sudah sore loh”. Aku tak kunjung sadar. Dia mengguncang tubuhku yang membuatku merasa terganggu. Aku pun terbangun.
“Ngg… maaf aku ketiduran” jawabku setengah sadar sambil mengusap sebelah mata.
“Loh? Mikarin?”
“Iya aku Mikarin. Kok kamu tahu namaku?” balasku sedikit kaget dengan keadaan masih setengah sadar. Kupandangi anak laki- laki itu. Wajahnya sangat tidak asing bagiku.
“Aku Mitsu, ingat?”
“Hah? Mitsu? Kamu Mitsu?” responku kaget. Dia tersenyum manis padaku. Wajahnya sedikit berubah tetapi mirip denganku, tambah dewasa tetapi tingginya masih lebih pendek dariku. Padahal dulu tinggi kami sama.
“Hehe… Mikarin kok di Yoshino?”
“Iya, ayah ada kerjaan disini jadi aku ikut. Lagian aku mau ketemu sama orang paling jelek sedunia, bwee”
“Idih kalau aku paling jelek sedunia, Mikarin juga paling jelek sedunia dong” ejeknya. Akupun tertawa geli. Sudah lama tak merasakan tawa seperti ini.
Kami bercerita banyak hal, mulai dari hari pertamaku tanpa Mitsu hingga keadaan sekolahku yang sekarang. Dia tetap tersenyum bahagia. Hingga akhirnya langit yang semula orange kekuningan kini menjadi lembayung tanda hamper malam. Celaka, tadi aku janji sama ayah pulang jam 5. “Sampai jumpa Mikarin”, itulah kalimat perpisahan kami hari ini.
Aku kembali kerumah rekan kerja ayah. Aku bercerita pada ayah kalau hari ini aku bertemu Mitsu di taman. Ayah memberi respon bagus. Aku senang ayah tidak marah aku bertemu Mitsu. Dia juga memperbolehkanku sesekali menginap dirumah Mitsu, bagaimanapun juga dia masih anak ayah dan Mitsu juga saudara kembarku.
Malam ini langin terlihat cerah dipenuhi bintang- bintang. Jarang sekali kulihat pemandangan seperti ini di Tokyo. Langit penuh berlian itu seolah mengembalikan masalaluku sesaat. “Wah ada bintang jahut. Aku harap bias menghabiskan 25 hari lagi bersama Mitsu di Yoshino”, semoga saja harapanku terkabul.
to be continued

A kara Z made (A untuk Awal Petualanganku)

