The second arc of Pink Petal Rain, Haru desu... Mungkin ada sedikit perubahan sifat atau apa... yang jelas, rasanya ada yang berubah... sebelum baca ini baca cerita (post) sebelumnya yah, supaya tau siapa ini siapa itu... dan tolong bertahan dengan kemampuan menulis saia yang masih hancur berantakan ini... :gomenne:
sa, enjoy your spring moment...
Pink Petal Rain
~4 Season Short Stories~
Haru(Spring)
Ini adalah ceritaku saat kami masih kelas satu, saat dimana kami semua belum mengenal satu sama lain kecuali Kazuki dan Sakura, yang notabene mereka adalah teman dari kecil. Saat itu aku masih menjadi salah satu pembangkang di kelas—yang dimana itu semua adalah bawaan dari SMP. Semua orang takut kepadaku. Tidak ada yang bisa mengalahkanku saat itu.
------
Di kelas aku selalu mencari onar dengan murid-murid lain. Selalu datang terlambat, bahkan aku sempat meng-cat rambutku menjadi kuning untuk beberapa bulan. Aku sering kali dipanggil keruang guru dan aku juga pernah diskors selama tiga hari.
Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Setelah melewati 3 bulan—semester pertama, dan liburan musim panas, aku mulai merasa bosan. Sudah tidak ada yang menarik lagi disekolahku sehingga aku membolos dari sekolah selama seminggu penuh. Dan ketika aku kembali kesekolah, orang itu—ketua kelas—menyapaku dengan penuh senyuman dan kekhawatiran.
Saat itulah aku merasa sangat senang. Entah kenapa.
Ketua kelasku itu tak lain dan tak bukan adalah Harune Sakura yang memang merupakan ketua kelas paling baik—katanya—diangkatan ini, dan dia juga dekat dengan Kazuki Shin, seorang laki-laki yang paling dekat dengannya dan dia duduk disebelahku. Saat ini aku merasa iri dengannya. Dia terlalu beruntung bisa dekat dengan Harune-san.
Saat istirahat siang, aku berniat untuk pergi ke kantin untuk membeli roti sebagai makan siangku karena hari in aku tidak membawa bentou.
Belum sempat aku beranjak keluar dari kursiku, Kazuki memanggilku,
“Oi, kau, Kitamura kan? Tunggu sebentar disini, kami ada perlu denganmu.”
“Hah? Bicara apa kau? Berani buang-buang waktuku hah?”
“Sudah Shin, Kitamura-kun..”, potong Sakura.
“Ha, Harune-san?!”, kataku tergagap.
“Kitamura-kun, kamu sekarang mau pergi makan siang kan? Kalau gitu bareng dengan kami saja!”
Kata-kata itu membuatku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya menjawab dengan anggukan, dan... Sepertinya wajahku panas...
Akhirnya aku ikut dengan mereka, 5 orang itu, menuju ke sebuah kafe yang belum pernah kulihat sebelumnya. Nama kafe itu adalah ‘Pink Petal’, yang sekarang menjadi tempat biasa untuk kami. Saat itu untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki disana. Yang lebih hebat, kafe ini masih dikelilingi dengan pohon sakura yang masih mekar.
“Su... Sugoii... Tempat ini... Aku baru tahu...”, kataku terkagum-kagum.
“Ya kan? Tempat ini memang bagus sekali. Kami menemukan tempat ini minggu lalu.”
Entah kenapa aku tergerak dengan keindahan bunga sakura ini, walalupun aku bukanlah penggemar benda-benda seperti itu. Rasanya bunga ini benar-benar mirip dengan Harune-san, orang yang benar-benar mencerminkan musim semi, hangat dan indah.
---------
Esoknya, aku pergi kesekolah lebih awal daripada sebelumnya, tepat sebelum bel berbunyi. Aku merasa tubuhku agak ringan, langkahku rasanya bisa lebih cepat, dan aku melakukannya.
Dan hari ini aku—kami—pergi ke tempat itu lagi. Dan juga hari-hari berikutnya hingga tak terasa musim semi berikutnya tiba. Aku sudah berubah karena mereka, Sakura dan yang lainnya. Aku sudah tidak pernah membolos, datang telat ataupun mengajak berkelahi murid lain. Semuanya terasa ajaib.
Musim semi keduaku di sekolah ini, artinya aku akan memasuki kelas yang baru. Aku berharap bisa satu kelas dengan Sakura dan yang lainnya.
Harapanku terkabul. Aku sekelas lagi dengan Sakura dan Kazuki—ya, hanya mereka berdua, yang lain tersebar di berbagai kelas, 2-A, dan 2-C. Aku berharap tahun ini menjadi tahun yang lebih baik.
---------
... Entahlah sudah berapa lama aku merasakan perasaan ini, tapi mungkin semenjak pertama kali dia menyapaku, namun aku baru menyadarinya sekarang...
----------
Tahun baru sudah terlewati. Sepertinya aku makin lama makin sering memeprhatikannya. Dan setiap kali aku berdua dengannya jantungku berdegup kencang, padahal sebelumnya tidak, lagipula... Bukankah dia sudah punya orang itu? Dan lagi dia sangat senang jika bersama dengan orang itu, kupikir tidak ada celah untukku masuk kedalam...
... Berminggu-minggu aku lalui, tidak ada perkembangan, walau aku sudah mengetahui bahwa dai tidak menyukai Kazuki atau sebaliknya. Tapi aku sudah memutuskan, aku akan menyatakan perasaanku kepadanya, setelah ujian tengah semester ini selesai...
------------
“Ryo-kun...”, Suara Sakura datang dari belakangku.
“Ah, Sakura... Kau datang...”
“Umh... Terus... Apa yang ingin kau bicarakan?”
“Sakura, aku akan memberikan pertanyaan, dan kamu hanya perlu menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’. Jika kau memilih ‘ya’ maka, lakukanlah. Tapi, kalau kau memilih ‘tidak’ aku akan kembali seperti dulu lagi... Tapi aku ingatkan satu hal. Jawab pertanyaan ini sejujurnya, sesuai dengan apa yang ingin kau jawab, jangan karena terpaksa atau apapun...”
“... Hah? Ah, ya baiklah...”
“Sakura! Aku menyukaimu. Maukah kamu menjadi pacarku?”
Aku melihat kearah Sakura sebentar. Ekspresinya seperti yang kuduga, terkejut, tapi aku melihat kewajahnya sekali lagi, wajahnya berubah menjadi agak merah... Bahkan air matanya mulai menetes. Apa aku keterlaluan? Apa karena aku temannya?
“... Sakura?”
“Hiks... Ryo...”
Untuk pertama kalinya aku melihatnya seperti ini. Sebaiknya aku harus menenangkannya, pertama-tama cari tempat duduk dulu...
“... Ada apa, Sakura?”
“... Ti-dak, hanya saja... Rasanya aku pernah melihat hal yang mirip seperti itu juga... Tapi kata-katanya berbeda... Rasanya sangat mengerikan... Aku, aku...Hiks...”
Air matanya mulai menetes kembali.
“Sebaiknya aku tidak usah terlalu mengusik tentang hal ini...”, pikirku.
“... Itu terjadi saat aku masih SMP... Dia orang yang kusukai dulu, dia adalah ketua OSIS yang beik terhadap semua orang... Tapi, ternyata aku... Salah.”
... Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin mendengarnya tapi aku juga tidak tega.
“Dia itu penjahat. Dia hanya ingin tubuh perempuan saja, bukan perasaan. Aku baru mengetahui hal itu setelah... Terjadi kejadian yang mirip seperti tadi, saat itu aku yang menyatakan perasaanku. Aku masih mengingat wajahnya saat itu, senyum licik seperti iblis. Aku gak tahan.”
“...”, Aku tidak dapat melakukan hal apapun selain mendengar...
“Dia... Perlahan mendekatiku, menggenggam kedua lenganku sangat erat, dia... Emndorongku hinggga tersudut dan tidak bisa bergerak sama sekali. Dan... kau bisa tebak apa yang dia lakukan, bukan?”
Aku mengepalkan tangaku dengan sangat erat, bahkan aku merasa telapak tangaku sedikit basah dan sakit karena berdarah. Aku sama sekali tidak tahu, kalau Sakura punya masa lalu seperti itu.
“Tapi, untungnya sebelum dia berhasil melakukan itu, dia, Shin, datang. Menyelamatkanku. ... Semenjak itu aku tidak bisa percaya dengan laki-laki lain selain Shin dan keluargaku.”
“Kalau begitu kenapa? Kenapa kamu mengajakku bicara? Bukankah kau tahu, aku ini seorang pengacau? Kenapa..?”
“... Aku tahu, karena kau bukanlah ‘serigala berbulu domba’ melainkan ‘domba berbulu serigala’... Heheh...”
“Gimana kalau ternyata dugaanmu salah? Kau bisa saja berakhir seperti itu juga!”
“Aku tahu kalau dugaanku bisa salah, makanya...”
*Srek*
Seseorang keluar dari balik semak-semak itu.
“... Aku mengajaknya kesini...”
“Yo!”
“....... KA-ZU-KI... SA-KU-RA...”, kataku nyaris meledak.
“Ya?”, jawab mereka berbarengan.
“Kenapa kau bawa-bawa orang ini, Sakura?! Bukankah aku bilang aku mau bicara sesuatu yang sangaaat penting? Berdua!”, lanjutku yang sudah meledak.
“Soalnya—”
“Dan lagi kau Kazuki! Ngapain sembunyi ditempat kayak gitu heh?! Cari tempat sembunyi yang lebih bagus kek supaya aku bisa ngebentakmu duluan!! Kalian berdua...!!”
“Maaf...”, kata mereka berbarengan lagi.
“Hah, hah... Moodnya jadi hancur nih...”, kataku mereda dan kembali duduk.
“Maaf lagi...”
“Ya udah... Kazuki kau udah denger berarti kan yang kubilang tadi? Dan, sekarang kau mau denger juga jawabannya?”
“Boleh aja sih... Tapi tergantung Sakura.”
“... Shin... Kamu duluan aja deh... Gak enak juga jadinya nih...”
Bagus...
“Ya udah deh, aku duluan—pulang ya!”, lalu dia melangkah pergi.
Serangga sudah berhasil di singkirkan.
“Jadi, jawabanmu...?”
“... Cerita lagi boleh nggak?”, dia menyenderkan kepalanya dibahuku.
“... Boleh aja sih.”
“... Kau tau gak sih, saat kamu absen sehari karena izin, legenda itu terjadi lho...”
Legenda? Ah... Itu.
“... Waktu itu, saat angin sedang bertiup kencang, selembar kelopak bunga sakura jatuh ke teh yang sedang kuminum. Dan... Kelopak bunga itu hilang, tercampur dengan tehku. Kau ingin tahu apa permintaanku itu?”
Aku menjawab dengan mengangguk.
“Aku minta, ‘agar aku dan Ryo bsia lebih dari teman.’ Itulah permintaanku, Ryo.”
... Gawat, sepertinya mukaku panas... Ber, berarti dugaanku yang dulu, dulu itu salah? Kan waktu aku absen dulu itu pas... seminggu setelah aku mulai berteman dengan mereka? Gaaaahhh!!!
“... Jadi, kau sudah tahu kan jawabannya?”
“... Terimakasihatasjawabanmu...”
“Hahah... Omonganmu lucu.”
“Ha-ha-hah... Terimakasih.”
Sepertinya aku merasa tangannya menggenggam tanganku yang tadi terluka, walau sekarang sudah tidak. Dan, aku berharap saat ini tidak pernah berakhir.
~Fin~
welcome to our world, a world where our 'monogatari' and imagination grown
Thursday, April 29, 2010
Pink Petal Rain - Fuyu
yak, sebagai opening saia akan memulai dengan monogatari saia yaitu, Pink Petal Rain ~4 Season Short Stories~ - Fuyu
Yak, hajimaruyo!! (mungkin ini agak panjang dan banyak kata-kata nihongo-nya, nanti cari dikamus ya, kalo gak ngerti... -w-")
Pink Petal Rain
~4 Season Short Stories~
PROLOGUE
“Sebenarnya apa harapanmu?”
‘Harapan’? Karena kata-kata itu aku teringat sebuah legenda. Legenda kota ini, kota Sakuragaoka, dimana jika saat kita meminum teh yang sebelumnya telah dijatuhi dan tercampur dengan bunga sakura, maka keinginan kita dapat terkabulkan. Mulai dari impian biasa, sampai dengan hal-hal yang luar biasa. Aku sendiri tidak pernah tahu batasan-batasan permohonan yang dapat kita minta, namun beberapa orang telah membuktikannya. Entahlah, aku yang sekarang masih percaya dengan hal itu atau tidak karena aku tidak terlalu percaya dengan efek itu. Namun, mungkin kehidupanku tidak bisa lepas dari semua itu…
Season 1 - Fuyu (Winter)
-- 14 February 2008 --
Aku berjalan menuju sekolah melewati jalan yang selalu kulewati lalu melewati pertokoan. Karena kemarin turun salju, jalanan hari ini dipenuhi oleh salju. Namun, tidak hanya itu. Pertokoan pun hari ini dipenuhi oleh pelanggan yang sebagian besar adalah perempuan. Toko yang paling ramai tentu saja, toko kue. Kenapa? Karena hari ini adalah Valentine. Aku tidak habis pikir, kenapa mereka rela berdesak-desakan untuk membeli coklat? Yah… Secara pribadi aku lebih senang kalau mendapatkan coklat buatan tangan. Karena, buatan tangan itu terasa lebih manis. Perasaan yang disampaikan seseorang itu tercampur dalam coklat itu.
“Shin-kun~~”
Aku melihat kebelakang, arah suara itu berasal. Disana aku melihat seorang perempuan sedang berjalan kearahku.
“Osoi yo, Sakura…”
“Gomen, gomen… Aku tadi siap-siap dulu…”
“Ya udah… Ayo berangkat…”, Kataku lalu berbalik dan mulai berjalan.
“Hai~~”, Balas Sakura lalu mulai berjalan mengikuti langkahku.
Harune Sakura. Itulah namanya. Dia adalah tetangga sekaligus teman masa kecilku. Mungkin dimata orang yang baru mengenalnya dia terlihat anggun, moe, baik, sigap, dll. Tapi, sebenarnya…
*Jdug*
“Itaa…”, Gumam Sakura.
“Ah… Lagi-lagi… Kenapa kamu sering tertabrak tiang listrik sih?”, Kataku sambil menjulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
“Hmm… Mungkin karena aku sering bengong?”, Balasnya sambil tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ha-ah…”, Aku menghela nafas.
“Hehehe… Ayo, jalan lagi..!”
“Hai, hai… Wakarimashita…”
Yah, sebenarnya seperti inilah dia. Dojikko. Tipe orang yang sering terjatuh atau tertabrak/menabrak sesuatu tapi bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi. Jujur saja, aku lumayan lelah mempunyai teman seperti dia. Tapi, mau gimana lagi? Sifatnya itu entah kenapa menjadi daya tariknya bagiku.
“Hei… Shin~~ Kau dengar tidak??”, Tanyanya sambai melambaikan tangannya di depan wajahku.
“Eh, ah? Apa?”, Aku lalu tersadar dari lamunanku.
“Hu-uh… Dari tadi kamu ngapain aja sih, sampai-sampai nggak dengar apa yang aku katakan?”
“Eh… Eto, gomen, Sakura-sama…”, Kataku sedikit bercanda.
“Hu-uh… Mulai lagi deh, Shin…”
“Kalau gitu… Gomen, Sakura-chan~”, Kataku sambil tersenyum.
“Hai, hai… Kalau gitu, jalan lagi yuk!”, Balasnya lalu menarik tanganku.
“A,ah… Umh…”
“Omong-omong, tadi memang kamu bilang apaan?”
“Apanya?”
“Yang kamu bilang pas aku lagi melamun…”
“Oh… Sore wa… Hi-mi-tsu…”, Balasnya dengan jari telunjuk dibibirnya.
“Ck… Kenapa?”
“Soalnya… Nggak ada reka ulang! Heheh…”
“Ha-ah…”, Aku menghela nafas.
-----------------------
*Ding dong ding dong*
Bel berbunyi. Disaat yang bersamaan kami berdua segera menukar sepatu.
*Cklek*
Aku membuka loker sepatuku. Ternyata diatas sepatu ada sebuah amplop kecil berwarna putih. Dibagian yang lain dari amplop itu tertulis;
“ To : Kazuki Shin-kun
Megumi Nanaka 2-A”
“Huff… Dapet lagi hari ini…”, Gumamku sambil menghela nafas.
Sebenarnya, aku sudah sering mendapatkan surat seperti itu. Jadi, aku sudah tidak terkejut lagi. Aku pertama kali mendapatkan surat seperti itu saat pertengahan semester satu kelas 5 SD. Yah… Waktu itu aku tidak terlalu menanggapinya, tapi, lama kelamaan aku jadi merasa bersalah karena membiarkan mereka yang mengirim surat terlantar olehku. Jadi, lebih baik aku memberi kepastian saja…
“Hoi, Shin-kun! Hayaku!”
“Hai, hai! Wakarimashita!”, Kataku lalu berlari kecil kearah kelas.
*Grek*
Sekarang aku berada dikelasku, kelas 2-B. Aku berharap Taiga-sensei belum datang… Sepertinya dia belum datang. Itu artinya aku selamat.
Baru saja aku ingin memasuki kelas, aku dihadang oleh beberapa murid perempuan.
“Shin-kun, tolong terima coklat ini!” (Baca kalimat ini sebanyak >15x)
Gah… Sekarang tanganku penuh dengan coklat. Kira-kira akan aku apakan coklat-coklat ini? Karena coklat yang menumpuk di tanganku, aku jadi sedikit sulit berjalan. Huff…
Akhirnya aku bisa sampai di bangkuku. Hanya berjalan dari pintu ke bangku aja udah seperti menempuh jarak 400m… Ha-ah… Aku segera memasukan coklat-coklat itu kedalam kantung kertas yang memang sudah kusiapkan dari rumah.
“Hei...! Sedang apa kalian? Cepat duduk dibangku kalian masing-masing!”, Taiga-sensei yang baru datang segera langsung menyuruh kami.
-------------------------------------
“Hoi, nih, dari Harune-san…”, Kata murid yang duduk didepan bangkuku.
“Hng?”
Aku segera membuka dan membaca kertas yang baru saja diberikan.
“Hmm..? ‘Nanti jam makan siang ke kafe biasa ya! Kafe Pink Petal~’, tte…”
Aku langsung melihat kearah Sakura. Dia tersenyum kearahku.
“Hoi, Kazuki! Sedang lihat kemana kamu?! Papan tulis itu ada di depan bukan di bangkunya Harune!”, Taiga-sensei memergokiku diiringi oleh suara tertawa dari seluruh kelas.
“A,ah… Sumimasen, Sensei!”
Aku kembali memperhatikan kearah papan tulis. Entah kenapa, hari ini aku tidak terlalu bisa berkonsentrasi saat pelajaran Taiga-sensei.
Tiba-tiba aku teringat surat yang aku dapat tadi pagi yang sampai sekarang belum aku baca. Aku melihat kearah Taiga-sensei. Tampaknya dia tidak sedang melihat kearahku. Aku segera mengambil surat itu dan membacanya.
“To : Kazuki Shin-kun
Megumi Nanaka 2-A
Kazuki-kun, kalau kamu bisa, tolong datang ke taman belakang jam pulang sekolah nanti.”
Pulang sekolah ya? Hmm… Ya sudah deh, lagipula aku tidak ada acara malam ini. Eh? Tunggu sebentar… ‘Megumi Nanaka’? Eh? Dia kan… Ah, Iya, aku ingat… Dia kan teman baik Amaya? Hmm… Sepertinya bakalan sedikit gawat…
-------------------------------
*Ding dong ding dong*
Bel istirahat makan siang telah berbunyi. Sepertinya Sakura juga sudah pergi duluan. Yah, sebaiknya aku pergi mencari yang lain dulu…
“Hmm… Kemana dulu ya?”, Gumamku sambil berjalan.
“Hoi, Kazuki!”
“Ah, Kitamura…”
“Mau ke tempat biasa ya? Ikut dong…”
Dia adalah Kitamura Ryo, teman baikku dan Sakura. Kami berteman dari kelas 1.
“Ya udah, tapi, aku mau cari Amaya, Yuuki, sama Hana dulu. Kalau mau duluan juga nggak apa-apa…”
“Ya udah, aku duluan… Jadi kan aku bisa berduaan sama Sakura-chan… Heheheh… Jaa…”, Katanya lalu berjalan kearah taman sambil melambaikan tangannya.
“Ya udah… Silahkan aja…”, Balasku yang kemudian berjalan kearah kelas 2-A.
Amakaze Amaya, Shiroikawa Yuuki, dan Tsukishima Hana. Mereka bertiga juga teman aku, Sakura dan Kitamura. Saat kelas 1, kami sekelas. Karena beberapa hal, kami menjadi sangat akrab dan sering menghabiskan waktu bersama.
Saat dilorong, aku berpapasan dengan seorang perempuan manis dengan rambut diikat seperti buntut kuda.
“Ah, Hana!”
“Hmm? Shin-kun! Kenapa?”
“Sekarang kamu mau kemana?”
“Ke kafe biasa. Kenapa?”
“Oh, ya udah deh, bagus… Kamu duluan aja, nanti aku nyusul…”, Kataku lalu melambaikan tangan.
“Eh? Iya…”
Sekarang aku sudah berada didepan kelas 2-A. Aku melihat lewat jendela dan mencari Amaya dan Yuuki. Ah, itu mereka. Tampaknya mereka menyadari keberadaanku dan segera mendekatiku.
“Yo, Shin!”, Kata Yuuki dengan penuh semangat.
“Yo, Yuuki…”, Balasku.
“Ya ampun, darimana aja sih? Kita udah lama nungguin lho!”, Lanjut Amaya.
“Gomenne… Sa, ikouka?”, Kataku mengkomandoi
---------------------------
“Ah, itu mereka! Hei, Shin, Amaya, Yuuki!! Kochi desu yo!”
Aku melihat kerah suara itu berasal, itu suara Sakura. Kami bertiga langsung menuju ketempat Sakura memanggil.
“Osoi yo… Anata tachi…”, Kata Sakura lagi.
“Gomen, gomen…”
“Iya nih, gara-gara Shin…”, Timpal Amaya.
“Oh, iya… Shin, Ryo, Hai, dozo…”, Kata Sakura sambil memberikan sekotak coklat kepada aku dan Kitamura.
“Ah… domo…”, Kataku.
“Yaay! Sakura-chan no choco! Arigatou ne, Sakura-chan… Heheh…”
“Irrashaimasen… Mau pesan apa?”, Seorang pelayan menanyakan pesanan kami.
“Ah, aku paket A sama Jus jeruk.”, Kata Kitamura.
“Aku… Udon Kroket, minumnya Ice cappuccino.”, Kataku.
“Aku Super-spicy Kare sama Jus jeruk.”, Kata Yuuki.
“Aku paket A juga sama Iced coffee.”, Kata Sakura.
“Hmm… Paket C deh… Minumnya Iced tea aja…”, Kata Hana.
“........”
Aku melihat kearah Amaya. Hanya dia yang belum memesan apapun.
“Baik, itu saja?”, Tanya pelayan itu.
“Hoi, Amaya… Kamu mau pesan apa?”, Tanyaku.
“Eh… Aku… Pesan Lemon tea aja deh…”
“Hmm? Memang kamu nggak lapar, Ama-chan?”, Tanya Yuuki.
“Eh… Sedikit, tapi aku nggak terlalu pingin makan…”
“Kenapa memang? Habis ini olahraga lho? Nanti kalau kamu nggak kuat gimana?”
“Nggak apa-apa kok… Kamu terlalu khawatir, Yuuki.”, Balasnya sambil tersenyum kecil.
“Oh, gitu… Aku kira kamu lagi diet… Heheh”, Candaku.
“Hah? Apaan sih, Shin!! Kamu!”, Katanya marah.
“………”
Tiba-tiba wajahnya yang sedang marah kembali berubah dalam sekejap seperti semula.
“? Kenapa berhenti?”, Tanyaku heran.
“… Nggak, nggak apa-apa…”, Jawabnya kemudian menundukkan kepalanya.
“???”, Aku hanya terdiam heran dan bingung. Biasanya dia langsung marah nggak berhenti.
“Baiklah, itu saja pesanannya?”
“Ah, iya…”, Jawab Sakura.
------------------------------
*Ding dong ding dong*
“Saa… Sekarang balik ke kelas yuk…”, Kata Yuuki.
Akhirnya, Amaya benar-benar tidak makan apapun. Dia hanya minum segelas teh saja. Walaupun tadi Yuuki sudah menawarinya, tetap saja dia tidak mau makan apapun. Hari ini pun dia lebih sering diam, padahal biasanya dia ceria meskipun masih lebih ceria Yuuki.
“Amaya?”, Tanyaku.
“Eh, Kenapa?”
“Kamu kenapa hari ini? Dari tadi diam terus… Sakit?”
“Eh? Nggak juga sih… Cuman lagi nggak pingin makan aja…”
“Bener?”
“Iya… Udah deh, apaan sih?”
“Atau… Jangan-jangan… Kamu khawatir sama Megumi-san ya?”
“?!”, Dia menunjukan ekspresi kaget diwajahnya.
“…. Berarti benar?”
“….” Dia hanya menundukkan kepalanya lalu berkata, “Ka, kalau iya kenapa?”
“Yah… Nggak apa-apa sih… Wajar aja, karena kamu teman baiknya. Omong-omong, mukamu merah tuh…”, Kataku sedikit bercanda.
“Biarin aja…”
Tanpa terasa kami sudah ada di depan kelas 2-A. Tentu saja Amaya dan Yuuki segera masuk dan bersiap-siap untuk olahraga. Aku, Sakura, dan Kitamura juga kembali ke kelas. Hanya Hana yang kembali sendirian ke kelas 2-C.
---------------------------
*Ding dong ding dong*
“Sa, kaere ikimashouka?”, Kata Sakura.
“Gomenne, Sakura. Aku masih ada urusan disekolah, jadi kamu duluan aja.”, Kataku sambil membereskan buku.
“Oh… Ya udah…”
“Oh, sebelumnya, aku boleh nitip ini nggak? Onegai…”, Pintaku lalu memberikan kantung kertas berisi coklat.
“Eh, ah… Ya…”
“Makasih…”, Lalu aku berlari menuju ke taman belakang.
Didepan kelas 2-A, aku melihat kelasnya sudah kosong. Melihat hal itu, aku langsung menambah kecepatan berjalanku.
“Ah, itu dia…”, Gumamku sambil menuju kearah tempat perempuan itu menunggu.
“Megumi-san?”, Kataku.
“Ah, Kazuki-kun… Maaf mengganggu ya sebelumnya…”
“Eh, yah… Nggak apa-apa kok.”
“Umh… Ya, sebenarnya aku hanya ingin bilang satu hal saja. Aku ingin kamu menerima honmei choco ini. Kamu nggak perlu ngejawab apapun. Aku hanya ingin kamu menerima coklat ini saja. Itu cukup.”
“Eh, ah… Terima kasih…”
“Lalu, ada satu hal lagi… Tadi Yuuki bilang kepadaku kalau aku bertemu denganmu sebelum dia bertemu denganmu, aku harus menyampaikan ini. Dia bilang ‘Yah, aku tahu mungkin ini nggak ada hubungannya, tapi, kalau bisa kamu sesegera mungkin datang ke ruang kesehatan. Aku perlu bantuanmu.’ Begitu katanya.”
“Eh? Ke ruang kesehatan? Umh, ya… Kalau gitu aku pergi dulu…”
“Yup…”, Balasnya sambil melambaikan tangannya.
“Terima kasih coklatnya!”
Lalu aku segera berlari menuju ruang kesehatan.
---------------------------
*Greek*
“Huff… Yuuki, ada apa?”, Tanyaku saat berjalan masuk.
“Ah, Shin… Ini…”, Jawabnya sambil melihat kearah seorang perempuan yang sedang terbaring dengan wajah merah padam dan nafas yang tersenggal-senggal.
“Eh? Amaya?! Kenapa dia?”
“Saat pelajaran olahraga tadi, tiba-tiba dia terjatuh. Tadi dia masih bisa berjalan, tapi sekarang…”, Kata Yuuki dengan raut wajah cemas.
Aku berjalan mendekati Amaya dan duduk di samping tempat tidurnya lalu memegang dahinya. Panas sekali. Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Yuuki pun tampaknya merasakan hal yang sama.
“Lalu, kamu ingin minta tolong apa?”
“Ah… Itu… Sebenarnya aku ada kegiatan OSIS, tapi karena Kurokawa-sensei sedang keluar, jadi nggak ada yang ngejaga Amaya, jadi aku ingin minta tolong kamu buat jagain dia… Bisa kan?”
“Ah… Bisa sih…”
“Lalu, kalau nanti sampai aku kembali dia belum bangun juga, kamu bisa mengantarnya kerumahnya nggak?”
“Ah, ok…”
“Kalau gitu, aku pergi dulu… Jaga Amaya ya…”
“Ou… Itterashai…”
Lalu? Sekarang aku harus jagain dia… Berarti kerjaanku cuman ngeliatin aja gitu? Bosan… Aku memperhatikan wajahnya yang masih memerah dan juga nafasnya yang masih tersenggal-senggal. Uh… Aku tidak berani melihat kearahnya lama-lama. Aku tidak tahan sendiri. Perasaanku jadi campur aduk antara tidak tega, kasihan, dan yang lainnya.
“Yuuki..?”, Gumamnya.
“Ah… Dia mengigau?”, Pikirku.
Dia terus menyebutkan nama Yuuki sambil meraba-raba dengan tangannya. Akhirnya dia berhasil memegang tanganku yang mungkin dia kira adalah tangan Yuuki. Dia lalu kembali mengigau dan bergumam.
“Yuuki… Aku… Khawatir… Sama… Nanaka… *Hah* *Hah*”, Gumamnya dengan nafas yang tersenggal-senggal.
Air matanya mulai tegenang. Aku sama sekali tidak tahu kenapa, tapi… Mungkin ada hubungannya dengan hal yang tadi… Itulah yang ada dipikiranku saat ini.
“*Hah**Hah* Entah… Kenapa… Aku… Aku… Tidak… Ingin… Kalau…”
“Kalau apa?”, Gumamku.
“Kalau… Shin… Menjadi… Tapi… Aku… Juga… Tidak… Ingin… Kebalikannya… Jadi… Aku harus… Bagaimana? *Hah* *Hah* ”
“Tunggu, kamu bilang kalau Shin menjadi…?”, Tanyaku dengan suara pelan seolah-olah aku sekarang adalah Yuuki.
“Kalau… Shin… Menjadi… Kalau… Shin… dan Nanaka…”
“Pacaran? Itu yang ingin kamu bilang?”
“*Hah* I… Ya… Aku… Nggak… Bisa… Berhenti… Untuk…”
“….”, Aku hanya bisa diam dan mendengarkan igauan Amaya.
“Watashi… Zutto… Shin… Suki desu…”, Gumamnya dengan air mata yang segera terjatuh dan genggaman tangannya semakin erat.
*Deg!*
Jadi… Begitu ternyata… Sekarang, jantungku berdetak semakin cepat. Aku hanya bisa meyakini satu hal, kalau, jantungku semakin berdegup kencang karena kalimat itu. Aku bertanya-tanya, kenapa hal ini bisa terjadi? Padahal hal ini sudah lumayan sering terjadi kepadaku. Mungkin… Selama ini, aku terus mencari sosoknya kemanapun dia pergi. Sejak kapan? Aku tidak tahu… Mungkin sejak musim semi dulu? Aku tidak tahu. Pokoknya hingga sekarang aku terus mencari sosoknya. Entah kenapa…
“Ne… Yuuki… Kalau… legenda kafe Pink Petal itu benar… Seharusnya… Shin… Harapanku… Seharusnya terjadi kan?”, Gumaman Amaya sekarang semakin jelas.
“Memangnya, saat itu apa yang kamu harapkan?”
“Saat itu dia berharap kalau kamu dapat menyukainya. Dia sebenarnya sudah menyukaimu saat akhir kelas 1 dulu.”, Sebuah suara yang berasal dari sebelahku menjawab pertanyaanku.
“Yuuki…”
“Kamu sudah tau sampai mana lewat igauannya?”, Lanjut Yuuki lagi.
“Aku… Sudah tau kalau dia menyukaiku. Itu saja…”, Jawabku tanpa melihat kearah Yuuki.
“Itu saja? Aku pikir kamu sudah tahu kalau dia hampir membuktikan legenda kafe Pink Petal… Legenda kota ini...”
“Ah… Ya, itu juga aku baru saja tahu…”
“Jadi? Gimana tadi sama Nanaka?”
“Nggak ada apa-apa kok… Aku hanya mendapatkan coklat dan… Dia bilang aku tidak usah menjawab apa-apa…”
“Begitu… Jadi… Aku hanya ingin memastikan… Sebenarnya, kamu suka dengan siapa? Sakura? Hana? Aku? Atau Amaya? Kalau kamu nggak bisa ngejawab pertanyaan itu berarti kamu itu pecundang…”, Tanya Yuuki dengan nada tegas.
“Aku..? Aku…”
Aku tidak menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata. Aku segera mengambil tangan Amaya yang dari tadi memegang pergelangan tanganku dan menggenggam telapak tangannya. Beberapa saat lamanya aku menggenggam tangannya.
“Jadi? Kamu pilih Amaya?”
“Aku… Tidak pernah memilih siapapun… Aku hanya mengikuti apa yang hatiku katakan. Hatiku tidak pernah dan tidak bisa memilih. Semua yang aku lakukan ini, perasaanku selama ini, selalu mengalir seperti air yang mengikuti jalurnya hingga akhirnya dia menemukan ujung dan tempat seharusnya dia berada.”
“Kalau begitu…”, Yuuki berjalan mendekati Amaya dan mengelus kepalanya.
“Aku pulang dulu… Sesuai janji, kalau dia tidak bangun juga sampai aku kembali, kamu harus mengantarnya pulang. Tolong jaga Amaya dengan baik.”
“Ah…”
“… Yuuki?”
“Ah, Amaya, kamu sudah bangun…”
“Lho? Shin?! Ke,kenapa kamu ada disini?! Yuuki mana?”
“Aku disini karena disuruh Yuuki untuk menemanimu…”
“Lalu, Yuuki dimana?”
“Dia… Sudah pulang… Katanya lagi, aku harus mengantarmu pulang.”
“Oh… Hmm…? Kok tanganku hangat?”, Gumamnya lalu melihat kearah tangannya.
“……”, Aku hanya diam memalingkan wajahku yang sedikit terasa panas agar aku tidak melihat wajah Amaya.
“???!!!!”, Walaupun tidak terdengar suara apapun dari mulut Amaya tapi aku tahu dia kaget.
“Ke, kenapa, Shin…?!”, Sambil melepaskan tangannya dari genggamanku.
Aku kembali melihat kearah Amaya. Wajahnya merah padam sehingga wajah kami berdua sama-sama berwarna merah.
“… Ah… Sudahlah, ayo pulang”, Kataku sambil mengambil tas lalu berjalan menuju pintu.
“……”
Aku melihat Amaya sedang terdiam diatas tempat tidur sambil memegangi tangannya sambil melihat kearah bawah.
“Amaya! Ayo!”
Amaya tersadar dari lamunannya dan segera mengambil tasnya dan menuju keluar.
---------------------------
“Na, Shin, boleh aku bertanya sesuatu…”
“Hmm..? Apa?”
“…… Eh… Nggak jadi deh…”
“Ha-ah… Ya sudah…”, Balasku sedikit menghela nafas.
Ah, sudah mau sampai di pertokoan… Lalu, apa yang harus aku lakukan… Sebentar lagi sudah sampai…
“Ah, Amaya… Mau mampir dulu nggak sebentar?”
“Mampir? Mau ngapain?”
“Aku traktir soft cream deh…”
“!! Bo,boleh…”
Sudah kuduga… Kalau aku bilang seperti itu pasti dia langsung mau… Telinga rubahnya langsung muncul… Haha… The power of soft cream…
“Mau rasa apa?”
“Hmm… Blueberry…”
“Jaa, tolong 1 blueberry dan 1 coklat, oji-san…”, Kataku lalu mengeluarkan sebuah koin 500 yen dari dompet.
“Hai, dozo…”
“Domo… Amaya, nih…”
“Ah… Do,domo…”
“Amaya…”
“Hng…?”, Jawabnya tanpa melepaskan sedikitpun perhatiannya dari soft cream-nya.
“… Nggak…”
“Hmm? Barusan bilang apa?”, Tanyanya sambil menjilati kedua tangannya.
“Geh?! Cepet… Ha-ah… Pasti deh… Lap dulu tuh mulut…”, Kataku sambil memberikan sapu tangan dari kantongku.
“Hmm…”, Amaya mengangguk mendengar ucapanku dan mengambil sapu tangan dari tanganku.
Pandangan Amaya sepertinya tertuju kearah sebuah toko makanan manis yang menjual coklat yang sudah hampir habis dagangannya. Aku terus memperhatikan Amaya hingga akhirnya melahap bagian terakhir dari soft cream-ku.
“Kenapa?”, tanyaku kepadanya.
“… Ah, Shin, tunggu disini dulu ya… Aku… Ke toko itu sebentar…” katanya sambil menunjuk toko yang dari tadi terus dia perhatikan.
“Ah… Umh…” jawabku dengan sebuah anggukan.
Amaya lalu melangkah dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke toko itu.
…… Bosan… Sebaiknya apa yang harus kulakukan? Ah, aku bingung… Pada akhirnya aku hanya bermain dengan kamera hp-ku…
“? Itu…”, gumamku saat melihat dua orang yang kukenal dari kamera.
Nggak salah lagi, itu pasti Sakura sama Kitamura kan? Hee… Moshikashite… Kono futari wa… Koibito? Demo, ore, zettai ni wakaranai… Ja, shittemiru ka?
Aku berjalan menuju kearah mereka berdua.
“Hoisu!” sapaku kearah mereka berdua.
“Ah, Kazuki! Kenapa kau ada disini?”
“Eh, Shin? Hontou da… Nande koko ni?”, Tanya Sakura.
"Umm... Yah, hanya sedikit jalan-jalan saja..."
"Oh, souka... Sama siapa? Sendiri?"
"Ung... Iiye, Amaya to isshou..."
"Hee... HEEH?! Sama Amaya?! Mo, moshikashite... Anata to Amaya-chan wa... Tsukiatte?", lanjut Sakura.
"Ho... Sugoii na, Kazuki... Boku wa zutto wakanai yo... Udah berapa lama pacaran sama dia?"
"Si, siapa yang?! Ore wa, Amaya to, tsukiatte janai yo!!", kataku terbata-bata.
"Ja, anata wa Amaya-chan no suki janai?", tanya Kitamura.
"So, sou yo!!"
Saat aku mengatakan begitu, Amaya tepat berada dibelakangku. Dia menatapku dengan pandangan kesal. Aku kaget melihat dia ada disana. Kantung yang dipegangnya itu diberikan kepadaku dengan paksa. Dia berlari pergi dari pertokoan itu.
Aku membuka kantung itu. Sebuah coklat. Jadi, ini yang dia beli barusan... Ini... Untukku? Aku... Aku merasa senang menerima ini tapi aku tidak suka dengan hal yang aku lakukan barusan. Kenapa aku begini? Kenapa aku tidak bisa mengatakan "Iya"?
"Shin-kun..."
"Kazuki..."
"....."
"Sedang apa kamu?! Cepat kejar dia!!!", bantah Kitamura melihatku yang tidak berbuat apa-apa setelah hal yang terjadi barusan.
"Sou yo... Wakatta... Soreja... Ittekimasu...", kataku meberikan salam dan segera berlari mengejar Amaya.
Aku berlari dengan coklat yang diberikan Amaya kepadaku. Berusaha mengejarnya walaupun aku tidak tahu, aku harus pergi kemana. Aku terus berlari. Sebuah bayangan terus menghantuiku. Bayangan seorang anak perempuan yang tidak mau mengalah, egois, suka bersikap seenaknya seolah-olah dia adalah seorang ojou-sama, keanak-anakan, tapi itulah. Itulah hal yang terus menghantuiku dan tidak pernah melepaskanku. Sejak kapan? Aku tidak tahu, mungkin... Legenda kota ini benar-benar ada.
Aku memasukkan dua buah koin kedalam sebuah vending machine di sebuah taman untuk beristirahat sejenak.
"Ha-ah... Tsukaretta... Ittai, doko ga, sono ko wa...?", kataku sambil meminum milk-tea yang kubeli barusan.
Rasanya, ada yang aneh dengan tempat ini. Apa yang aneh? Padahal, di pertokoan tadi salju masih tersisa di sekeliling jalan tapi disini tidak. Dan bahkan yang lebih aneh, kenapa disini sudah mekar bunga sakura? Padahal sekarang masih bulan Februari, dan tentu, musim dingin. ... Ah, ya, aku lupa, ini adalah salah satu tempat dimana bunag sakura selalu mekar, taman Sakurahana.
Selembar kelopak bunga terjatuh dan masuk kedalam milk-tea yang kuminum lalu hilang setelah beberapa saat kemudian seolah-olah tercampur kedalam milk-tea yang kuminum. Kalau legenda itu benar, berarti...
"Semoga aku bisa menemukan Amaya dan membalas perasaannya dengan jujur dan tidak mengecewakannya lagi...", kataku dalam hati.
Aku segera meminum milk-tea milikku.
Beberapa saat lamanya aku menunggu setelah aku menghabiskan milk-tea itu. Tidak terjadi apa-apa. Dasar pembual. Kenapa aku percaya dengan hal itu? Padahal aku tidak pernah percaya dengan legenda-legenda seperti itu. Kenapa sekarang aku berusaha mepercayainya? Dasar bodoh...
"Ha-ah...", aku menghela nafasku sambil menatap ke langit.
Selang beberapa detik, aku merasa ada yang duduk disebelahku, namun aku tidak peduli. Apapun yang terjadi. Aku merasa sangat kesal. Legenda payah, pembohong.
"Shi... Shin..."
Suara itu datang dari sebelahku. Merasa namaku dipanggil oleh suara yang lembut dan seperti kukenal, aku melihat kesebelahku.
"A, Ama... Amaya...", kataku gugup.
"Ano, Amaya... Gomenne...", lanjutku lagi.
"Kenapa? Soal apa?"
"So, sono... Saki no koto..."
"... A, ah... Sore wa... Ii wa... Seharusnya malah aku yang minta maaf..."
"Kamu nggak salah apa-apa kok... Emm... Yang tadi itu... Bohong kok..."
Aku berdiri tepat di depan Amaya dan...
"Da, datte... Ore wa, anata no koto... Suki desu! Dakara... Ore to tsukiatte kudasai!", lanjutku.
Aku melihat Amaya terbelalak menatapku. Wajahnya merah. Dia ikut berdiri dan menatapku tajam.
"Na, nande... Baka janai ka, omae... Watashi... Watashi, zutto, zutto anata no koto suki da! Baka mono, Shin wa...", bantah Amaya.
"Baka... Shin wa... Baka...", lanjut Amaya lalu meletakkan kepalanya di badanku.
"Sono 'Baka, baka' tte yamete yo... Datte kimi wa ano baka no hito wa suki desuyo ne?"
"Iya yo... Datte omae wa hontou ni baka mono..."
"Hai, hai... Lakukan sesukamu saja...", balasku.
"Zutto, watashi ni soba ni iru yo, baka Shin... Datte watashi wa anata no koto, suki...", lanjut Amaya dengan suara yang pelan yang hanya bisa didengar olehku.
"Wakatta yo... Zutto... Dayo ne?"
"Umh... Zutto..."
Ditengah kelopak bunga sakura yang berjatuhan di musim dingin yang aneh ini, legenda itu dibuktikan oleh diriku sendiri. Sekarang, aku percaya dengan legenda kota ini, kota Sakuragaoka, kota penuh keajaiban musim semi dimanapun kalian berada. Kota aneh, yang sangat indah.
~ Fin ~
Yak, hajimaruyo!! (mungkin ini agak panjang dan banyak kata-kata nihongo-nya, nanti cari dikamus ya, kalo gak ngerti... -w-")
Pink Petal Rain
~4 Season Short Stories~
PROLOGUE
“Sebenarnya apa harapanmu?”
‘Harapan’? Karena kata-kata itu aku teringat sebuah legenda. Legenda kota ini, kota Sakuragaoka, dimana jika saat kita meminum teh yang sebelumnya telah dijatuhi dan tercampur dengan bunga sakura, maka keinginan kita dapat terkabulkan. Mulai dari impian biasa, sampai dengan hal-hal yang luar biasa. Aku sendiri tidak pernah tahu batasan-batasan permohonan yang dapat kita minta, namun beberapa orang telah membuktikannya. Entahlah, aku yang sekarang masih percaya dengan hal itu atau tidak karena aku tidak terlalu percaya dengan efek itu. Namun, mungkin kehidupanku tidak bisa lepas dari semua itu…
Season 1 - Fuyu (Winter)
-- 14 February 2008 --
Aku berjalan menuju sekolah melewati jalan yang selalu kulewati lalu melewati pertokoan. Karena kemarin turun salju, jalanan hari ini dipenuhi oleh salju. Namun, tidak hanya itu. Pertokoan pun hari ini dipenuhi oleh pelanggan yang sebagian besar adalah perempuan. Toko yang paling ramai tentu saja, toko kue. Kenapa? Karena hari ini adalah Valentine. Aku tidak habis pikir, kenapa mereka rela berdesak-desakan untuk membeli coklat? Yah… Secara pribadi aku lebih senang kalau mendapatkan coklat buatan tangan. Karena, buatan tangan itu terasa lebih manis. Perasaan yang disampaikan seseorang itu tercampur dalam coklat itu.
“Shin-kun~~”
Aku melihat kebelakang, arah suara itu berasal. Disana aku melihat seorang perempuan sedang berjalan kearahku.
“Osoi yo, Sakura…”
“Gomen, gomen… Aku tadi siap-siap dulu…”
“Ya udah… Ayo berangkat…”, Kataku lalu berbalik dan mulai berjalan.
“Hai~~”, Balas Sakura lalu mulai berjalan mengikuti langkahku.
Harune Sakura. Itulah namanya. Dia adalah tetangga sekaligus teman masa kecilku. Mungkin dimata orang yang baru mengenalnya dia terlihat anggun, moe, baik, sigap, dll. Tapi, sebenarnya…
*Jdug*
“Itaa…”, Gumam Sakura.
“Ah… Lagi-lagi… Kenapa kamu sering tertabrak tiang listrik sih?”, Kataku sambil menjulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
“Hmm… Mungkin karena aku sering bengong?”, Balasnya sambil tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ha-ah…”, Aku menghela nafas.
“Hehehe… Ayo, jalan lagi..!”
“Hai, hai… Wakarimashita…”
Yah, sebenarnya seperti inilah dia. Dojikko. Tipe orang yang sering terjatuh atau tertabrak/menabrak sesuatu tapi bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi. Jujur saja, aku lumayan lelah mempunyai teman seperti dia. Tapi, mau gimana lagi? Sifatnya itu entah kenapa menjadi daya tariknya bagiku.
“Hei… Shin~~ Kau dengar tidak??”, Tanyanya sambai melambaikan tangannya di depan wajahku.
“Eh, ah? Apa?”, Aku lalu tersadar dari lamunanku.
“Hu-uh… Dari tadi kamu ngapain aja sih, sampai-sampai nggak dengar apa yang aku katakan?”
“Eh… Eto, gomen, Sakura-sama…”, Kataku sedikit bercanda.
“Hu-uh… Mulai lagi deh, Shin…”
“Kalau gitu… Gomen, Sakura-chan~”, Kataku sambil tersenyum.
“Hai, hai… Kalau gitu, jalan lagi yuk!”, Balasnya lalu menarik tanganku.
“A,ah… Umh…”
“Omong-omong, tadi memang kamu bilang apaan?”
“Apanya?”
“Yang kamu bilang pas aku lagi melamun…”
“Oh… Sore wa… Hi-mi-tsu…”, Balasnya dengan jari telunjuk dibibirnya.
“Ck… Kenapa?”
“Soalnya… Nggak ada reka ulang! Heheh…”
“Ha-ah…”, Aku menghela nafas.
-----------------------
*Ding dong ding dong*
Bel berbunyi. Disaat yang bersamaan kami berdua segera menukar sepatu.
*Cklek*
Aku membuka loker sepatuku. Ternyata diatas sepatu ada sebuah amplop kecil berwarna putih. Dibagian yang lain dari amplop itu tertulis;
“ To : Kazuki Shin-kun
Megumi Nanaka 2-A”
“Huff… Dapet lagi hari ini…”, Gumamku sambil menghela nafas.
Sebenarnya, aku sudah sering mendapatkan surat seperti itu. Jadi, aku sudah tidak terkejut lagi. Aku pertama kali mendapatkan surat seperti itu saat pertengahan semester satu kelas 5 SD. Yah… Waktu itu aku tidak terlalu menanggapinya, tapi, lama kelamaan aku jadi merasa bersalah karena membiarkan mereka yang mengirim surat terlantar olehku. Jadi, lebih baik aku memberi kepastian saja…
“Hoi, Shin-kun! Hayaku!”
“Hai, hai! Wakarimashita!”, Kataku lalu berlari kecil kearah kelas.
*Grek*
Sekarang aku berada dikelasku, kelas 2-B. Aku berharap Taiga-sensei belum datang… Sepertinya dia belum datang. Itu artinya aku selamat.
Baru saja aku ingin memasuki kelas, aku dihadang oleh beberapa murid perempuan.
“Shin-kun, tolong terima coklat ini!” (Baca kalimat ini sebanyak >15x)
Gah… Sekarang tanganku penuh dengan coklat. Kira-kira akan aku apakan coklat-coklat ini? Karena coklat yang menumpuk di tanganku, aku jadi sedikit sulit berjalan. Huff…
Akhirnya aku bisa sampai di bangkuku. Hanya berjalan dari pintu ke bangku aja udah seperti menempuh jarak 400m… Ha-ah… Aku segera memasukan coklat-coklat itu kedalam kantung kertas yang memang sudah kusiapkan dari rumah.
“Hei...! Sedang apa kalian? Cepat duduk dibangku kalian masing-masing!”, Taiga-sensei yang baru datang segera langsung menyuruh kami.
-------------------------------------
“Hoi, nih, dari Harune-san…”, Kata murid yang duduk didepan bangkuku.
“Hng?”
Aku segera membuka dan membaca kertas yang baru saja diberikan.
“Hmm..? ‘Nanti jam makan siang ke kafe biasa ya! Kafe Pink Petal~’, tte…”
Aku langsung melihat kearah Sakura. Dia tersenyum kearahku.
“Hoi, Kazuki! Sedang lihat kemana kamu?! Papan tulis itu ada di depan bukan di bangkunya Harune!”, Taiga-sensei memergokiku diiringi oleh suara tertawa dari seluruh kelas.
“A,ah… Sumimasen, Sensei!”
Aku kembali memperhatikan kearah papan tulis. Entah kenapa, hari ini aku tidak terlalu bisa berkonsentrasi saat pelajaran Taiga-sensei.
Tiba-tiba aku teringat surat yang aku dapat tadi pagi yang sampai sekarang belum aku baca. Aku melihat kearah Taiga-sensei. Tampaknya dia tidak sedang melihat kearahku. Aku segera mengambil surat itu dan membacanya.
“To : Kazuki Shin-kun
Megumi Nanaka 2-A
Kazuki-kun, kalau kamu bisa, tolong datang ke taman belakang jam pulang sekolah nanti.”
Pulang sekolah ya? Hmm… Ya sudah deh, lagipula aku tidak ada acara malam ini. Eh? Tunggu sebentar… ‘Megumi Nanaka’? Eh? Dia kan… Ah, Iya, aku ingat… Dia kan teman baik Amaya? Hmm… Sepertinya bakalan sedikit gawat…
-------------------------------
*Ding dong ding dong*
Bel istirahat makan siang telah berbunyi. Sepertinya Sakura juga sudah pergi duluan. Yah, sebaiknya aku pergi mencari yang lain dulu…
“Hmm… Kemana dulu ya?”, Gumamku sambil berjalan.
“Hoi, Kazuki!”
“Ah, Kitamura…”
“Mau ke tempat biasa ya? Ikut dong…”
Dia adalah Kitamura Ryo, teman baikku dan Sakura. Kami berteman dari kelas 1.
“Ya udah, tapi, aku mau cari Amaya, Yuuki, sama Hana dulu. Kalau mau duluan juga nggak apa-apa…”
“Ya udah, aku duluan… Jadi kan aku bisa berduaan sama Sakura-chan… Heheheh… Jaa…”, Katanya lalu berjalan kearah taman sambil melambaikan tangannya.
“Ya udah… Silahkan aja…”, Balasku yang kemudian berjalan kearah kelas 2-A.
Amakaze Amaya, Shiroikawa Yuuki, dan Tsukishima Hana. Mereka bertiga juga teman aku, Sakura dan Kitamura. Saat kelas 1, kami sekelas. Karena beberapa hal, kami menjadi sangat akrab dan sering menghabiskan waktu bersama.
Saat dilorong, aku berpapasan dengan seorang perempuan manis dengan rambut diikat seperti buntut kuda.
“Ah, Hana!”
“Hmm? Shin-kun! Kenapa?”
“Sekarang kamu mau kemana?”
“Ke kafe biasa. Kenapa?”
“Oh, ya udah deh, bagus… Kamu duluan aja, nanti aku nyusul…”, Kataku lalu melambaikan tangan.
“Eh? Iya…”
Sekarang aku sudah berada didepan kelas 2-A. Aku melihat lewat jendela dan mencari Amaya dan Yuuki. Ah, itu mereka. Tampaknya mereka menyadari keberadaanku dan segera mendekatiku.
“Yo, Shin!”, Kata Yuuki dengan penuh semangat.
“Yo, Yuuki…”, Balasku.
“Ya ampun, darimana aja sih? Kita udah lama nungguin lho!”, Lanjut Amaya.
“Gomenne… Sa, ikouka?”, Kataku mengkomandoi
---------------------------
“Ah, itu mereka! Hei, Shin, Amaya, Yuuki!! Kochi desu yo!”
Aku melihat kerah suara itu berasal, itu suara Sakura. Kami bertiga langsung menuju ketempat Sakura memanggil.
“Osoi yo… Anata tachi…”, Kata Sakura lagi.
“Gomen, gomen…”
“Iya nih, gara-gara Shin…”, Timpal Amaya.
“Oh, iya… Shin, Ryo, Hai, dozo…”, Kata Sakura sambil memberikan sekotak coklat kepada aku dan Kitamura.
“Ah… domo…”, Kataku.
“Yaay! Sakura-chan no choco! Arigatou ne, Sakura-chan… Heheh…”
“Irrashaimasen… Mau pesan apa?”, Seorang pelayan menanyakan pesanan kami.
“Ah, aku paket A sama Jus jeruk.”, Kata Kitamura.
“Aku… Udon Kroket, minumnya Ice cappuccino.”, Kataku.
“Aku Super-spicy Kare sama Jus jeruk.”, Kata Yuuki.
“Aku paket A juga sama Iced coffee.”, Kata Sakura.
“Hmm… Paket C deh… Minumnya Iced tea aja…”, Kata Hana.
“........”
Aku melihat kearah Amaya. Hanya dia yang belum memesan apapun.
“Baik, itu saja?”, Tanya pelayan itu.
“Hoi, Amaya… Kamu mau pesan apa?”, Tanyaku.
“Eh… Aku… Pesan Lemon tea aja deh…”
“Hmm? Memang kamu nggak lapar, Ama-chan?”, Tanya Yuuki.
“Eh… Sedikit, tapi aku nggak terlalu pingin makan…”
“Kenapa memang? Habis ini olahraga lho? Nanti kalau kamu nggak kuat gimana?”
“Nggak apa-apa kok… Kamu terlalu khawatir, Yuuki.”, Balasnya sambil tersenyum kecil.
“Oh, gitu… Aku kira kamu lagi diet… Heheh”, Candaku.
“Hah? Apaan sih, Shin!! Kamu!”, Katanya marah.
“………”
Tiba-tiba wajahnya yang sedang marah kembali berubah dalam sekejap seperti semula.
“? Kenapa berhenti?”, Tanyaku heran.
“… Nggak, nggak apa-apa…”, Jawabnya kemudian menundukkan kepalanya.
“???”, Aku hanya terdiam heran dan bingung. Biasanya dia langsung marah nggak berhenti.
“Baiklah, itu saja pesanannya?”
“Ah, iya…”, Jawab Sakura.
------------------------------
*Ding dong ding dong*
“Saa… Sekarang balik ke kelas yuk…”, Kata Yuuki.
Akhirnya, Amaya benar-benar tidak makan apapun. Dia hanya minum segelas teh saja. Walaupun tadi Yuuki sudah menawarinya, tetap saja dia tidak mau makan apapun. Hari ini pun dia lebih sering diam, padahal biasanya dia ceria meskipun masih lebih ceria Yuuki.
“Amaya?”, Tanyaku.
“Eh, Kenapa?”
“Kamu kenapa hari ini? Dari tadi diam terus… Sakit?”
“Eh? Nggak juga sih… Cuman lagi nggak pingin makan aja…”
“Bener?”
“Iya… Udah deh, apaan sih?”
“Atau… Jangan-jangan… Kamu khawatir sama Megumi-san ya?”
“?!”, Dia menunjukan ekspresi kaget diwajahnya.
“…. Berarti benar?”
“….” Dia hanya menundukkan kepalanya lalu berkata, “Ka, kalau iya kenapa?”
“Yah… Nggak apa-apa sih… Wajar aja, karena kamu teman baiknya. Omong-omong, mukamu merah tuh…”, Kataku sedikit bercanda.
“Biarin aja…”
Tanpa terasa kami sudah ada di depan kelas 2-A. Tentu saja Amaya dan Yuuki segera masuk dan bersiap-siap untuk olahraga. Aku, Sakura, dan Kitamura juga kembali ke kelas. Hanya Hana yang kembali sendirian ke kelas 2-C.
---------------------------
*Ding dong ding dong*
“Sa, kaere ikimashouka?”, Kata Sakura.
“Gomenne, Sakura. Aku masih ada urusan disekolah, jadi kamu duluan aja.”, Kataku sambil membereskan buku.
“Oh… Ya udah…”
“Oh, sebelumnya, aku boleh nitip ini nggak? Onegai…”, Pintaku lalu memberikan kantung kertas berisi coklat.
“Eh, ah… Ya…”
“Makasih…”, Lalu aku berlari menuju ke taman belakang.
Didepan kelas 2-A, aku melihat kelasnya sudah kosong. Melihat hal itu, aku langsung menambah kecepatan berjalanku.
“Ah, itu dia…”, Gumamku sambil menuju kearah tempat perempuan itu menunggu.
“Megumi-san?”, Kataku.
“Ah, Kazuki-kun… Maaf mengganggu ya sebelumnya…”
“Eh, yah… Nggak apa-apa kok.”
“Umh… Ya, sebenarnya aku hanya ingin bilang satu hal saja. Aku ingin kamu menerima honmei choco ini. Kamu nggak perlu ngejawab apapun. Aku hanya ingin kamu menerima coklat ini saja. Itu cukup.”
“Eh, ah… Terima kasih…”
“Lalu, ada satu hal lagi… Tadi Yuuki bilang kepadaku kalau aku bertemu denganmu sebelum dia bertemu denganmu, aku harus menyampaikan ini. Dia bilang ‘Yah, aku tahu mungkin ini nggak ada hubungannya, tapi, kalau bisa kamu sesegera mungkin datang ke ruang kesehatan. Aku perlu bantuanmu.’ Begitu katanya.”
“Eh? Ke ruang kesehatan? Umh, ya… Kalau gitu aku pergi dulu…”
“Yup…”, Balasnya sambil melambaikan tangannya.
“Terima kasih coklatnya!”
Lalu aku segera berlari menuju ruang kesehatan.
---------------------------
*Greek*
“Huff… Yuuki, ada apa?”, Tanyaku saat berjalan masuk.
“Ah, Shin… Ini…”, Jawabnya sambil melihat kearah seorang perempuan yang sedang terbaring dengan wajah merah padam dan nafas yang tersenggal-senggal.
“Eh? Amaya?! Kenapa dia?”
“Saat pelajaran olahraga tadi, tiba-tiba dia terjatuh. Tadi dia masih bisa berjalan, tapi sekarang…”, Kata Yuuki dengan raut wajah cemas.
Aku berjalan mendekati Amaya dan duduk di samping tempat tidurnya lalu memegang dahinya. Panas sekali. Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Yuuki pun tampaknya merasakan hal yang sama.
“Lalu, kamu ingin minta tolong apa?”
“Ah… Itu… Sebenarnya aku ada kegiatan OSIS, tapi karena Kurokawa-sensei sedang keluar, jadi nggak ada yang ngejaga Amaya, jadi aku ingin minta tolong kamu buat jagain dia… Bisa kan?”
“Ah… Bisa sih…”
“Lalu, kalau nanti sampai aku kembali dia belum bangun juga, kamu bisa mengantarnya kerumahnya nggak?”
“Ah, ok…”
“Kalau gitu, aku pergi dulu… Jaga Amaya ya…”
“Ou… Itterashai…”
Lalu? Sekarang aku harus jagain dia… Berarti kerjaanku cuman ngeliatin aja gitu? Bosan… Aku memperhatikan wajahnya yang masih memerah dan juga nafasnya yang masih tersenggal-senggal. Uh… Aku tidak berani melihat kearahnya lama-lama. Aku tidak tahan sendiri. Perasaanku jadi campur aduk antara tidak tega, kasihan, dan yang lainnya.
“Yuuki..?”, Gumamnya.
“Ah… Dia mengigau?”, Pikirku.
Dia terus menyebutkan nama Yuuki sambil meraba-raba dengan tangannya. Akhirnya dia berhasil memegang tanganku yang mungkin dia kira adalah tangan Yuuki. Dia lalu kembali mengigau dan bergumam.
“Yuuki… Aku… Khawatir… Sama… Nanaka… *Hah* *Hah*”, Gumamnya dengan nafas yang tersenggal-senggal.
Air matanya mulai tegenang. Aku sama sekali tidak tahu kenapa, tapi… Mungkin ada hubungannya dengan hal yang tadi… Itulah yang ada dipikiranku saat ini.
“*Hah**Hah* Entah… Kenapa… Aku… Aku… Tidak… Ingin… Kalau…”
“Kalau apa?”, Gumamku.
“Kalau… Shin… Menjadi… Tapi… Aku… Juga… Tidak… Ingin… Kebalikannya… Jadi… Aku harus… Bagaimana? *Hah* *Hah* ”
“Tunggu, kamu bilang kalau Shin menjadi…?”, Tanyaku dengan suara pelan seolah-olah aku sekarang adalah Yuuki.
“Kalau… Shin… Menjadi… Kalau… Shin… dan Nanaka…”
“Pacaran? Itu yang ingin kamu bilang?”
“*Hah* I… Ya… Aku… Nggak… Bisa… Berhenti… Untuk…”
“….”, Aku hanya bisa diam dan mendengarkan igauan Amaya.
“Watashi… Zutto… Shin… Suki desu…”, Gumamnya dengan air mata yang segera terjatuh dan genggaman tangannya semakin erat.
*Deg!*
Jadi… Begitu ternyata… Sekarang, jantungku berdetak semakin cepat. Aku hanya bisa meyakini satu hal, kalau, jantungku semakin berdegup kencang karena kalimat itu. Aku bertanya-tanya, kenapa hal ini bisa terjadi? Padahal hal ini sudah lumayan sering terjadi kepadaku. Mungkin… Selama ini, aku terus mencari sosoknya kemanapun dia pergi. Sejak kapan? Aku tidak tahu… Mungkin sejak musim semi dulu? Aku tidak tahu. Pokoknya hingga sekarang aku terus mencari sosoknya. Entah kenapa…
“Ne… Yuuki… Kalau… legenda kafe Pink Petal itu benar… Seharusnya… Shin… Harapanku… Seharusnya terjadi kan?”, Gumaman Amaya sekarang semakin jelas.
“Memangnya, saat itu apa yang kamu harapkan?”
“Saat itu dia berharap kalau kamu dapat menyukainya. Dia sebenarnya sudah menyukaimu saat akhir kelas 1 dulu.”, Sebuah suara yang berasal dari sebelahku menjawab pertanyaanku.
“Yuuki…”
“Kamu sudah tau sampai mana lewat igauannya?”, Lanjut Yuuki lagi.
“Aku… Sudah tau kalau dia menyukaiku. Itu saja…”, Jawabku tanpa melihat kearah Yuuki.
“Itu saja? Aku pikir kamu sudah tahu kalau dia hampir membuktikan legenda kafe Pink Petal… Legenda kota ini...”
“Ah… Ya, itu juga aku baru saja tahu…”
“Jadi? Gimana tadi sama Nanaka?”
“Nggak ada apa-apa kok… Aku hanya mendapatkan coklat dan… Dia bilang aku tidak usah menjawab apa-apa…”
“Begitu… Jadi… Aku hanya ingin memastikan… Sebenarnya, kamu suka dengan siapa? Sakura? Hana? Aku? Atau Amaya? Kalau kamu nggak bisa ngejawab pertanyaan itu berarti kamu itu pecundang…”, Tanya Yuuki dengan nada tegas.
“Aku..? Aku…”
Aku tidak menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata. Aku segera mengambil tangan Amaya yang dari tadi memegang pergelangan tanganku dan menggenggam telapak tangannya. Beberapa saat lamanya aku menggenggam tangannya.
“Jadi? Kamu pilih Amaya?”
“Aku… Tidak pernah memilih siapapun… Aku hanya mengikuti apa yang hatiku katakan. Hatiku tidak pernah dan tidak bisa memilih. Semua yang aku lakukan ini, perasaanku selama ini, selalu mengalir seperti air yang mengikuti jalurnya hingga akhirnya dia menemukan ujung dan tempat seharusnya dia berada.”
“Kalau begitu…”, Yuuki berjalan mendekati Amaya dan mengelus kepalanya.
“Aku pulang dulu… Sesuai janji, kalau dia tidak bangun juga sampai aku kembali, kamu harus mengantarnya pulang. Tolong jaga Amaya dengan baik.”
“Ah…”
“… Yuuki?”
“Ah, Amaya, kamu sudah bangun…”
“Lho? Shin?! Ke,kenapa kamu ada disini?! Yuuki mana?”
“Aku disini karena disuruh Yuuki untuk menemanimu…”
“Lalu, Yuuki dimana?”
“Dia… Sudah pulang… Katanya lagi, aku harus mengantarmu pulang.”
“Oh… Hmm…? Kok tanganku hangat?”, Gumamnya lalu melihat kearah tangannya.
“……”, Aku hanya diam memalingkan wajahku yang sedikit terasa panas agar aku tidak melihat wajah Amaya.
“???!!!!”, Walaupun tidak terdengar suara apapun dari mulut Amaya tapi aku tahu dia kaget.
“Ke, kenapa, Shin…?!”, Sambil melepaskan tangannya dari genggamanku.
Aku kembali melihat kearah Amaya. Wajahnya merah padam sehingga wajah kami berdua sama-sama berwarna merah.
“… Ah… Sudahlah, ayo pulang”, Kataku sambil mengambil tas lalu berjalan menuju pintu.
“……”
Aku melihat Amaya sedang terdiam diatas tempat tidur sambil memegangi tangannya sambil melihat kearah bawah.
“Amaya! Ayo!”
Amaya tersadar dari lamunannya dan segera mengambil tasnya dan menuju keluar.
---------------------------
“Na, Shin, boleh aku bertanya sesuatu…”
“Hmm..? Apa?”
“…… Eh… Nggak jadi deh…”
“Ha-ah… Ya sudah…”, Balasku sedikit menghela nafas.
Ah, sudah mau sampai di pertokoan… Lalu, apa yang harus aku lakukan… Sebentar lagi sudah sampai…
“Ah, Amaya… Mau mampir dulu nggak sebentar?”
“Mampir? Mau ngapain?”
“Aku traktir soft cream deh…”
“!! Bo,boleh…”
Sudah kuduga… Kalau aku bilang seperti itu pasti dia langsung mau… Telinga rubahnya langsung muncul… Haha… The power of soft cream…
“Mau rasa apa?”
“Hmm… Blueberry…”
“Jaa, tolong 1 blueberry dan 1 coklat, oji-san…”, Kataku lalu mengeluarkan sebuah koin 500 yen dari dompet.
“Hai, dozo…”
“Domo… Amaya, nih…”
“Ah… Do,domo…”
“Amaya…”
“Hng…?”, Jawabnya tanpa melepaskan sedikitpun perhatiannya dari soft cream-nya.
“… Nggak…”
“Hmm? Barusan bilang apa?”, Tanyanya sambil menjilati kedua tangannya.
“Geh?! Cepet… Ha-ah… Pasti deh… Lap dulu tuh mulut…”, Kataku sambil memberikan sapu tangan dari kantongku.
“Hmm…”, Amaya mengangguk mendengar ucapanku dan mengambil sapu tangan dari tanganku.
Pandangan Amaya sepertinya tertuju kearah sebuah toko makanan manis yang menjual coklat yang sudah hampir habis dagangannya. Aku terus memperhatikan Amaya hingga akhirnya melahap bagian terakhir dari soft cream-ku.
“Kenapa?”, tanyaku kepadanya.
“… Ah, Shin, tunggu disini dulu ya… Aku… Ke toko itu sebentar…” katanya sambil menunjuk toko yang dari tadi terus dia perhatikan.
“Ah… Umh…” jawabku dengan sebuah anggukan.
Amaya lalu melangkah dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke toko itu.
…… Bosan… Sebaiknya apa yang harus kulakukan? Ah, aku bingung… Pada akhirnya aku hanya bermain dengan kamera hp-ku…
“? Itu…”, gumamku saat melihat dua orang yang kukenal dari kamera.
Nggak salah lagi, itu pasti Sakura sama Kitamura kan? Hee… Moshikashite… Kono futari wa… Koibito? Demo, ore, zettai ni wakaranai… Ja, shittemiru ka?
Aku berjalan menuju kearah mereka berdua.
“Hoisu!” sapaku kearah mereka berdua.
“Ah, Kazuki! Kenapa kau ada disini?”
“Eh, Shin? Hontou da… Nande koko ni?”, Tanya Sakura.
"Umm... Yah, hanya sedikit jalan-jalan saja..."
"Oh, souka... Sama siapa? Sendiri?"
"Ung... Iiye, Amaya to isshou..."
"Hee... HEEH?! Sama Amaya?! Mo, moshikashite... Anata to Amaya-chan wa... Tsukiatte?", lanjut Sakura.
"Ho... Sugoii na, Kazuki... Boku wa zutto wakanai yo... Udah berapa lama pacaran sama dia?"
"Si, siapa yang?! Ore wa, Amaya to, tsukiatte janai yo!!", kataku terbata-bata.
"Ja, anata wa Amaya-chan no suki janai?", tanya Kitamura.
"So, sou yo!!"
Saat aku mengatakan begitu, Amaya tepat berada dibelakangku. Dia menatapku dengan pandangan kesal. Aku kaget melihat dia ada disana. Kantung yang dipegangnya itu diberikan kepadaku dengan paksa. Dia berlari pergi dari pertokoan itu.
Aku membuka kantung itu. Sebuah coklat. Jadi, ini yang dia beli barusan... Ini... Untukku? Aku... Aku merasa senang menerima ini tapi aku tidak suka dengan hal yang aku lakukan barusan. Kenapa aku begini? Kenapa aku tidak bisa mengatakan "Iya"?
"Shin-kun..."
"Kazuki..."
"....."
"Sedang apa kamu?! Cepat kejar dia!!!", bantah Kitamura melihatku yang tidak berbuat apa-apa setelah hal yang terjadi barusan.
"Sou yo... Wakatta... Soreja... Ittekimasu...", kataku meberikan salam dan segera berlari mengejar Amaya.
Aku berlari dengan coklat yang diberikan Amaya kepadaku. Berusaha mengejarnya walaupun aku tidak tahu, aku harus pergi kemana. Aku terus berlari. Sebuah bayangan terus menghantuiku. Bayangan seorang anak perempuan yang tidak mau mengalah, egois, suka bersikap seenaknya seolah-olah dia adalah seorang ojou-sama, keanak-anakan, tapi itulah. Itulah hal yang terus menghantuiku dan tidak pernah melepaskanku. Sejak kapan? Aku tidak tahu, mungkin... Legenda kota ini benar-benar ada.
Aku memasukkan dua buah koin kedalam sebuah vending machine di sebuah taman untuk beristirahat sejenak.
"Ha-ah... Tsukaretta... Ittai, doko ga, sono ko wa...?", kataku sambil meminum milk-tea yang kubeli barusan.
Rasanya, ada yang aneh dengan tempat ini. Apa yang aneh? Padahal, di pertokoan tadi salju masih tersisa di sekeliling jalan tapi disini tidak. Dan bahkan yang lebih aneh, kenapa disini sudah mekar bunga sakura? Padahal sekarang masih bulan Februari, dan tentu, musim dingin. ... Ah, ya, aku lupa, ini adalah salah satu tempat dimana bunag sakura selalu mekar, taman Sakurahana.
Selembar kelopak bunga terjatuh dan masuk kedalam milk-tea yang kuminum lalu hilang setelah beberapa saat kemudian seolah-olah tercampur kedalam milk-tea yang kuminum. Kalau legenda itu benar, berarti...
"Semoga aku bisa menemukan Amaya dan membalas perasaannya dengan jujur dan tidak mengecewakannya lagi...", kataku dalam hati.
Aku segera meminum milk-tea milikku.
Beberapa saat lamanya aku menunggu setelah aku menghabiskan milk-tea itu. Tidak terjadi apa-apa. Dasar pembual. Kenapa aku percaya dengan hal itu? Padahal aku tidak pernah percaya dengan legenda-legenda seperti itu. Kenapa sekarang aku berusaha mepercayainya? Dasar bodoh...
"Ha-ah...", aku menghela nafasku sambil menatap ke langit.
Selang beberapa detik, aku merasa ada yang duduk disebelahku, namun aku tidak peduli. Apapun yang terjadi. Aku merasa sangat kesal. Legenda payah, pembohong.
"Shi... Shin..."
Suara itu datang dari sebelahku. Merasa namaku dipanggil oleh suara yang lembut dan seperti kukenal, aku melihat kesebelahku.
"A, Ama... Amaya...", kataku gugup.
"Ano, Amaya... Gomenne...", lanjutku lagi.
"Kenapa? Soal apa?"
"So, sono... Saki no koto..."
"... A, ah... Sore wa... Ii wa... Seharusnya malah aku yang minta maaf..."
"Kamu nggak salah apa-apa kok... Emm... Yang tadi itu... Bohong kok..."
Aku berdiri tepat di depan Amaya dan...
"Da, datte... Ore wa, anata no koto... Suki desu! Dakara... Ore to tsukiatte kudasai!", lanjutku.
Aku melihat Amaya terbelalak menatapku. Wajahnya merah. Dia ikut berdiri dan menatapku tajam.
"Na, nande... Baka janai ka, omae... Watashi... Watashi, zutto, zutto anata no koto suki da! Baka mono, Shin wa...", bantah Amaya.
"Baka... Shin wa... Baka...", lanjut Amaya lalu meletakkan kepalanya di badanku.
"Sono 'Baka, baka' tte yamete yo... Datte kimi wa ano baka no hito wa suki desuyo ne?"
"Iya yo... Datte omae wa hontou ni baka mono..."
"Hai, hai... Lakukan sesukamu saja...", balasku.
"Zutto, watashi ni soba ni iru yo, baka Shin... Datte watashi wa anata no koto, suki...", lanjut Amaya dengan suara yang pelan yang hanya bisa didengar olehku.
"Wakatta yo... Zutto... Dayo ne?"
"Umh... Zutto..."
Ditengah kelopak bunga sakura yang berjatuhan di musim dingin yang aneh ini, legenda itu dibuktikan oleh diriku sendiri. Sekarang, aku percaya dengan legenda kota ini, kota Sakuragaoka, kota penuh keajaiban musim semi dimanapun kalian berada. Kota aneh, yang sangat indah.
~ Fin ~
Labels:
Orginal,
Pink Petal Rain,
Romance,
Short Story,
Slice of Life,
Yuki Hotaru
Wednesday, April 28, 2010
Introduction
Yep and yep...
blog ini dibuat dari ide iseng yang dimulai oleh saia.
nantinya blog ini akan dipenuhi dengan cerita2 yang berasal dari berbagai macam pengarang... yang tentunya saia kenal...
nanti akan diupdate lagi... makasih
Subscribe to:
Posts (Atom)


