Our Friendship:

Daisypath Friendship tickers

Wednesday, September 8, 2010

 Pink Petal Rain - Natsu

Di kota inilah, kota Sakuragaoka, kota aneh yang indah dan penuh kejaiban musim semi, aku tinggal. Setiap hari, bunga sakura selalu mekar, namun itu hanya terjadi di beberapa wilayah kota ini, salah satunya adalah di taman Sakurahana, taman yang tepat berada di depan rumahku. Setiap hari aku selalu melihat bunga sakura sehingga aku sering lupa kalau sekarang sedang dalam liburan musim panas.
"Yu... Yuuki... Heei..."

Melihat lambaian tangan seseorang didepan mataku, aku tersadar dari lamunanku.

"Yuuki? Kenapa bengong?"

Sesosok anak perempuan yang barusan melambaikan tangannya di depanku jadi terlihat. Nama anak ini adalah Amakaze Amaya. Teman baikku sejak SMP. Dia sering kesini untuk melihat bunga sakura, terutama pada saat liburan seperti ini.
"Jadi, kamu tadi bilang apa?"
"Hu-uh, Yuuki... Makanya jangan bengong... Tadi aku ngajak kamu buat ke pantai..."
"Hee... Kapan? Minggu depan?"
"Iya... Terus, karena itu... Ka, kamu bisa nggak..."
"Ngajak Shin? Itu yang mau kamu bilang kan?"
"E, eh?! Ko,kok tau?"
"Kamu emang gampang ditebak, Ama-chan..."
"Maaf kalo aku gampang ditebak..."
"Jadi, mau ngajak Shin-nya aja atau sama yang lain?"
"Terserah aja... Tapi kamu harus ikut! Itu aja..."
“Hahah, iya deh... Iya... Tapi kenapa gak kamu ajak sendiri aja? Kan dia pacarmu?”
“Eh? Kalau aku yang ngajak duluan—”, wajahnya berubah agak merah.
“Uph... Hahaha, kamu kayak anak kecil yang gak mau kalah deh, Ama-chan... OK, aku ngerti, nanti aku ajak dia, yang lain juga, nggak apa kan?”
“Umh...”, jawabnya sambil tersenyum.

Itulah hal yang kubilang kepadanya. Tapi, rasanya aku jadi seperti membohongi perasaanku sendiri, karena, aku menyukai dia.

Mungkin perasaan ini sebaiknya harus aku hapus, karena perasaan ini sama sekali gak wajar, gak normal. Dia itu sahabatku sendiri, dan aku juga sudah tahu siapa yang disukai olehnya. Jujur saja, aku tidak terlalu keberatan karena aku sudah mengenal siapa orangnya. Mungkin itu yang terbaik.

--------

“Jadi, Shin, kau harus datang! Gak peduli gimanapun itu. Yang lain juga udah aku kasih tahu dan mereka semua bilang bisa. Soal penginapannya itu juga udah selesai tinggal datang aja. Ok! Inget, minggu depan!”
“... Iya deh! Ngerti, ngerti!”
“Bagus, kalau gitu, dah!”
*tuut tuut*

“Jadi, gimana, Yuuki?”
“Siap, tinggal kamu urus aja penginapannya ya!”
“Beneran? Yey!!”

... Rasanya melihat wajah cerianya saja aku sudah senang. Sebaiknya aku harus tetap merelakannya, apapun yang terjadi... Karena ini demi dia, sahabatku, orang yang paling kusayang.

----------

Akhirnya hari ini tiba juga. Kalau dia menunggu hari ini dengan ceria, aku menunggu hari ini dengan hati yang selalu sakit. Beberapa hari sebelum hari ini, aku selalu memikirkan hal apa saja yang akan terjadi. Apalagi setelah mengetahui mereka sudah pacaran.

Ya, aku bahkan bisa melihat saat mereka jadian, karena aku sedang memandangi bunga sakura saat itu. Dan, sangat jelas terlihat didepan mataku, saat mereka berpelukan, saat Ama-chan menangis, semuanya. Melihat hal itu, bunga sakura sekalipun gak bisa mengabulkan permintaanku, perasaanku, hatiku. Sakit. Disaat itu juga, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku menangis.

*pok* Seseorang menepuk pundakku.
“Yuuki? Kamu nggak apa-apa? Kenapa daritadi bengong terus? Udah gitu kayaknya kamu gak terlalu seneng...”
Ama-chan... Ah, aku sampai lupa kalau kita sedang bersiap-siap.
“Ung, gak apa-apa kok.”
“Ya udah, tapi kalau kamu sakit gak usah dipaksain...”
“Nggak apa-apa kok! Beneran, kan kasian yang lain juga udah nungguin di stasiun.”
“... Ya udah, berangkat yuk.”
“Umh! Let’s go!”, kataku dengan nada ceria.

--------
“Shin mana? Gak bareng kamu, Sakura?”, tanyaku ke Sakura.
“Nggak, tadi katanya dia dateng agak telat...”
“Tapi ini terlalu telat. Udah jam berapa ini? Bentar lagi keretanya berangkat!”
“Ya, dibilang gitu juga—Ah, itu dia.”, sambi menunjuk kearah pintu masuk.
Bersamaan disaat itu, wajah Amaya yang tadi agak mendung berubah menjadi cerah. Sepertinya aku udah hampir gak bisa lagi...Nahan perasaan ini...

“Osoi, Shinbaka!”, Amaya memarahi Shin begitu dia sampai.
“Gomen~ Ada sesuatu yang harus aku lakukan dulu tadi.”
“Emang apa sih yang kamu kerjakan?”
“Nanti aku kasih lihat, keretanya sudah mau berangkat kan? Semenit lagi.”
“Yah, bener sih. Ya udah, ayo.”, kataku.

...
Di dalam kereta, aku, Shin, dan Amaya duduk terpisah dengan Hana, Sakura dan Ryo. Susunan tempat duduk yang ‘pas’... karena ada dua pasangan disini, aku dan Hana jadi merasa terkucilkan... Kenapa gak dua pasangan itu duduk bareng dan biarin aja kita terlantar... Ck... Apalagi didepanku... Ini cuman ngebuat perasaanku tambah gak enak...

“Ah, omong-omong... Amaya.”
“Hng?”
“Nih...”, Shin mengeluarkan sebuah gelang dari tasnya.
“Apaan ini?”
“Kerjaan yang ngebuat aku telat. Itu strap...”
“Hah? Strap toh... Kirain gelang...”
Pikirku juga gitu loh, Ama-chan...
“Yah, bisa juga sih... Kalau muat...”
“Hahahah... Jadi kau mau bilang kalau aku itu gendut jadi tanganku gak bisa muat gitu? Dasar, Shinbaka...”
“Gak ada yang bilang begitu... Cuman aku ngebuatnya emang gak pas, udah gitu gak ada pengaitnya... Ditanganku aja gak muat...”
“Hah... Ya udah, makasih ya, Shinbaka...”
“... Anak ini...”, gumam Shin.

Aaah... Ngedengernya aja udah bikin panas... Untung aku gak ngeliat karena lagi ngeliat keluar... Aku harap kita cepet sampai.

----------

“Ah~~ Akhirnya sampai juga...”, kataku senang.
Tapi, belum selesai... Dari sini kita masih harus naik bis dulu selama kurang lebih 30 menit-an... Semoga badanku gak panas lagi.

...
Untungnya sih nggak, malah aku seneng banget... Kali ini aku duduk dengan Amaya, disebelah kami, Sakura dan Hana. Sisanya dibelakang~~

“... Ne, Ama-chan...”
“Hng? Doshitano, Yuuki?”
“... Kenapa kamu bisa suka sama Shin?”
“?! Kenapa tiba-tiba kamu nanya begitu?”
“... Nggak apa-apa sih.. Pingin tau aja...”
“...? AH! Jangan-jangan...”
“?”
Amaya mendekatkan mulutnya ke wajahku. Heh?! Awawa... Gawat, badanku panas...
“Kamu... cemburu?”, katanya berbisik ditelingaku.
Cemburu? ... Mungkin iya...
Aku mengangguk kearahnya.
“Heeh?! Jadi bener? Berarti—”
“... Kamu belum jawab pertanyaanku...”, aku memotong perkataan Amaya.
“Gak tau ya, kenapa aku suka sama dia, tapi... Tanpa aku sadarin, rasanya dia udah menjadi orang paling kusayang di dunia ini... Setelah kamu tapi! Jadi, jangan marah ya...”
Aku tersenyum mendengar perkataannya, lalu berkata, “Tenang aja... Apapun yang terjadi aku gak bakal ngerebut dia dari kamu kok...”
Tapi, gak tahu deh... Kalau sebaliknya...

--------

Sesampainya kami di villa milik Amaya, kami langsung segera menyiapkan makan malam, karena memang matahari hampir terbenam.
Sakura dan Shin lah yang pergi membeli bahan barberque untuk makan malam hari ini. Hana sedang membersihkan peralatan barberque, dan Ryo sedang menyiapkan arangnya, sehingga aku dan Amaya berdua saja saat ini (jangan bertanya kenapa kami gak ngelakuin apa-apa).

“... Yuuki... Aku masih penasaran...”
“Kenapa? Soal yang tadi... kan aku udah bilang—”
“Bukan—Ah, iya itu juga... Tapi bukan itu, untuk sekarang... Aku penasaran, kenapa akhir-akhir ini... mungkin semenjak aku suka sama Shin, kamu jadi agak berubah? Biasanya kamu lebih ceria dari itu... Ada hubungannya kah sama hal yang tadi?”
“... Nggak, tapi hubungannya sama masalah yang lain...”
“... Oh, masalah apaan?”
“... Nanti kamu juga tau...”—Kalau aku bisa bilang...
“... Ya udah deh... tapi kamu janji ya...”
“Ya...”

“Tadaima~~”
Suara Shin dan Sakura menjadi satu, berasal dari depan pintu.

“Yosh,”, aku bangkit dari tempat dudukku, “Ayo, kita bakar barberque-nya!”
Aku beranjak dari tempatku berdiri menuju ke taman.

-----------

Setelah makan malam, kami membakar kembang api di pantai.
...
Tunggu sebentar... Dimana Amaya?
-----------

... Setelah kembang api kami habis, aku menghabiskan sisa waktu hari ini sendirian sambil memandangi bintang. ... Indah. Hari ini sepertinya banyak sekali bintang... Dan, laut di malam hari itu memang indah ya...
... Aku mengalihkan pandanganku sebentar dari langit berbintang dan mencoba untuk menikmati pemandangan laut malam. Ah, aku jadi ngerasa tua sekarang...

Namun, didalam keindahan ternyata juga ada keburukan,
“!!!”, aku terkejut karena aku telah melihat hal yang paling tidak ingin kulihat.
Aku segera masuk kedalam kamar dan menutup jendela beserta gorden secepat mungkin. Untukku, sudah tidak ada harapan lagi. Tidak ada yang bisa mengabulkan permohonanku, mau bintang jatuh ataupun legenda Sakuragaoka itu, tidak mungkin bisa.

Aku menenggelamkan wajahku kedalam bantal. Berusaha melupakan hal itu. Walau...

... *kriet*
Aku mengarahkan wajahku ke arah pintu. Amaya. Dan aku langsung kembali ke posisi sebelumnya, menutup mata.

“... –ki... Yuuki...”
Faint voice whispered into my ears. So faint that make me want to cry.
Aku hanya diam, pura-pura tidur, tidak menjawab apapun.

----------

Pagi sudah tiba dan itu artinya aku akan menghadapi hal yang menyulitkan sehari lagi. Begitu juga besok, lusa, dan seterusnya. More and more I wished, more and more the pain gained...

Aku mulai membuka mataku, berusaha untuk terjaga dari kantuk yang terasa setelah bangun. Mungkin ini handicap untukku karena menjadi sahabat orang yang kusuka, disaat seperti ini aku bisa melihat wajah polosnya yang sedang tertidur dalam piyama. Sungguh polos, tak punya pertahanan.
*Deg*
Aah, sepertinya jantungku baru saja berdegup lebih kencang. Dan aku bisa menebak trigger-nya, ya, tentu aja wajah polosnya itu. Padahal aku sudah cukup sering melihatnya seperti ini, dan aku masih belum terbiasa.

....
Aku menatap kearah jendela,melihat pemandangan laut pagi yang begitu indah. Dan, aku mulai berpikir... Kenapa manusia itu egois banget, udah dikasih segini banyaknya, masih minta lebih. Kenapa aku ini seegois itu? Padahal aku sudah bisa menjadi orang yang paling berharga untuknya, bahkan melebihi orang yang dia cintai, tapi aku masih saja... Apa sebaiknya aku mulai mencoba untuk berhenti secara perlahan?

Selagi aku berpikir seperti itu, aku mendengar suara dari sebelahku, seperti suara igauan, “Yuu-chan... Yuu-chan wa okotta, watashi ni?”
... Yuu-chan? Sudah lama rasanya dia nggak memanggil aku kayak gitu. Semenjak SMA dia berhenti memanggilku Yuu-chan dan menggantinya dengan Yuuki dengan alasan dia bukan anak kecil lagi katanya... Tsun?
Aku dengan inisiatif-ku atau lebih tepat disebut refleks menjawab pertanyaan itu, “Okotte nai yo, Ama-chan. Datte watashi anata no koto suki yo.”, sambil mengelus kepalanya.
Sepertinya mimpinya masih/sudah dalam kondisi untuk bisa dipengaruhi, sehingga dia meresponnya dengan senyuman manis. Kkkhhhhh.... Kawaii sugiru!!
Tanpa kusadari, badanku sudah mulai bergerak, perlahan demi perlahan, mendekatkan wajahku dengannya, namun tepat sebelum hilangnya jarak antara kedua wajah kami aku berhenti, menyadari apa yang badanku lakukan. Menyadari bahwa sedikit lagi aku akan merasa sangat bersalah untuk merebutnya dari orang yang juga sahabatku itu. Cukup disini, aku gak mau semua hancur karena tindakan bodohku. ... Cukup...

Menunggu, berharap, dan disakiti. Sungguh dunia yang tidak adil. Setelah aku berharap dan menunggu yang aku dapatkan hanyalah sakit...
And so I waiting for the beloved one to rise up and smiling to hurt me... Why I must waiting for someone that hurt me? It’s just me that doesn’t know it, or everyone is? Whichever it is, I still waiting, hoping, and hurted...

Menunggu itu nggak menyenangkan, apalagi kalau kalian nunggu buat dikasih hadiah sama orang yang bikin kalian sakit, itu sama aja kayak nuang minyak diatas api kan? Tapi tetep aja aku terus ngelakuin itu tanpa henti. Jangan-jangan aku ini masochist? Maaf, itu bercanda.

“Unggh...”, sebuah gumaman yang diikuti dengan suara gerakan berasal dari sebelahku.
Aku menatap kearah iblis mungil disebelahku lalu memberikan salam, “Oha-you, Ama-chan~” dengan nada ceria.

... Aah, aku bahkan tidak tahu gimana perasaanku, haruskah aku bilang dia itu iblis kecil yang manis atau malaikat? Kadang aku sulit mengerti diriku sendiri, sifatku sering kali berubah seenaknya.

Sepertinya dia masih di alam mimpi, nyawanya belum terkumpul...
Wajahnya masih terlihat mengantuk dengan mata yang setengah terbuka, kelihatan seperti orang mabuk untukku—mungkin.
“Aah~~ Yuu-chan~Oha-you~~”, balasnya dengan senyuman polos.
Uwaah, kali ini dia bilang itu sambil (setengah) sadar! Mana senyumnya lebih polos daripada yang tadi lagi... Ufh... Tahan oii, tahan!

Amaya berusaha bangkit dari posisinya dengan susah payah lalu tersenyum lagi kepadaku. Nanda yo?! Sono kao wa! Pikirku dengan ekspresi yang udah gak karuan lagi. Aku berusaha mengalihkan pandanganku dari Amaya untuk jaga-jaga. Mungkin karena melihatku bersifat seperti ini, Amaya—tanpa sepengetahuanku—melingkarkan kedua tangannya dileherku dan memelukku dengan erat, menempelkan wajahnya denganku.

Aku yang nyaris pingsan udah gak bisa ngomong apa-apa lagi, wajahku udah kayak kepiting, udang, dan apapun-itu-yang-dari-laut-kalau-dimasak-berubah-warna-jadi-merah rebus.
Mungkin nyawanya masih belum terkumpul atau dia mabuk karena apaan-tau-aku-gak-tau-itu..?
“Yuu-chan, hontou ni okotte nai? Dakara doushite?”, tanyanya lagi.
“Ahhh!!! Mou ii!”, bentakku, “Watashi wa okotta yo!!”, lanjutku dengan nada marah.
Ah, akhirnya aku bilang juga... Ya udahlah, lagian dia sendiri belum sepenuhnya sadar, paling nanti tidur lagi terus pas bangun lagi dia lupa semuanya...
“... Doushite? Hoshiete yo, Yuu-chan!”, bentaknya.
...Dan sekarang aku gak tau dia udah sadar atau belum—maksudku, aku gak tau aku harus jawab apa...
“Watashi... Watashi wa... Amaya no suki da yo!!!”, dan akhirnya aku mengatakannya. Yuuki¬-ku udah habis langsung karena satu kalimat... Apa aku ganti nama aja ya?
“... Kamu itu bego Yuu-chan... Kenapa kamu gak bilang dari dulu aja..?”
“Kenapa katamu?! Memangnya... MEMANGNYA KAMU PIKIR SEGAMPANG ITU APA?!”, bentakku kearah Amaya.
Aku berusaha melepaskan tangan Amaya dari leherku, tapi dia langsung memindahkan tangannya ke pinggangku dan mempereratnya.
“Aku tau gak gampang, tapi seenggaknya, apapun yang kamu dapetin, kamu pasti ngerasa lega kan..?”, katanya dengan suara pelan.
Dan aku gak bisa ngomong apapun lagi. Untuk kedua kalinya aku bisa meneteskan air mataku, karena orang yang sama. Air mataku menetes dengan cepat, membasahi wajahku, bajuku, lengan Amaya, hingga kasur.
“Kamu emang bener, Amaya...”, kataku pelan, “mungkin aku ngerasa lega, sekaligus aku dapet klimaks dari sakit yang aku rasa...”
“Gomenne...”, katanya dengan ekspresi sedikit kecewa, “Aku gak bisa ngebales perasaanmu sepenuhnya, dan aku yakin kamu tau hal itu... Jadi aku bener-bener minta maaf. Tapi, tetep, semuanya gak bakalan berubah, aku bakalan selalu disamping kamu... Dan aku gak keberatan kalau kamu... Suka sama orang lain.”
“Amaya...”, gumamku.
“Dan, kalau hal itu terjadi, biarin aku jadi orang yang paling pertama tau soal itu, karena—”
“‘Kamu itu, orang terpenting nomer satu buatku’, kan?”, potongku.
“Yup! Dan gitu juga sebaliknya.”, katanya sambil tersenyum senang.

Aku dengan air mata yang masih tergenang hanya bisa menanggapi hal itu dengan senyuman kecil.
Kalau gitu aku bisa gak nunggu kamu sampai bisa ngebales perasanku?—itulah hal yang ingin kukatakan, namun sebaiknya aku harus diam dulu, dan biarin aja itu cuman aku yang tau.

~End~
Next Post Previous Post Home