Our Friendship:

Daisypath Friendship tickers

Thursday, April 29, 2010

Pink Petal Rain - Haru

The second arc of Pink Petal Rain, Haru desu... Mungkin ada sedikit perubahan sifat atau apa... yang jelas, rasanya ada yang berubah... sebelum baca ini baca cerita (post) sebelumnya yah, supaya tau siapa ini siapa itu... dan tolong bertahan dengan kemampuan menulis saia yang masih hancur berantakan ini... :gomenne:

sa, enjoy your spring moment...

Pink Petal Rain
~4 Season Short Stories~
Haru(Spring)

Ini adalah ceritaku saat kami masih kelas satu, saat dimana kami semua belum mengenal satu sama lain kecuali Kazuki dan Sakura, yang notabene mereka adalah teman dari kecil. Saat itu aku masih menjadi salah satu pembangkang di kelas—yang dimana itu semua adalah bawaan dari SMP. Semua orang takut kepadaku. Tidak ada yang bisa mengalahkanku saat itu.
------
Di kelas aku selalu mencari onar dengan murid-murid lain. Selalu datang terlambat, bahkan aku sempat meng-cat rambutku menjadi kuning untuk beberapa bulan. Aku sering kali dipanggil keruang guru dan aku juga pernah diskors selama tiga hari.
Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Setelah melewati 3 bulan—semester pertama, dan liburan musim panas, aku mulai merasa bosan. Sudah tidak ada yang menarik lagi disekolahku sehingga aku membolos dari sekolah selama seminggu penuh. Dan ketika aku kembali kesekolah, orang itu—ketua kelas—menyapaku dengan penuh senyuman dan kekhawatiran.
Saat itulah aku merasa sangat senang. Entah kenapa.
Ketua kelasku itu tak lain dan tak bukan adalah Harune Sakura yang memang merupakan ketua kelas paling baik—katanya—diangkatan ini, dan dia juga dekat dengan Kazuki Shin, seorang laki-laki yang paling dekat dengannya dan dia duduk disebelahku. Saat ini aku merasa iri dengannya. Dia terlalu beruntung bisa dekat dengan Harune-san.
Saat istirahat siang, aku berniat untuk pergi ke kantin untuk membeli roti sebagai makan siangku karena hari in aku tidak membawa bentou.
Belum sempat aku beranjak keluar dari kursiku, Kazuki memanggilku,
“Oi, kau, Kitamura kan? Tunggu sebentar disini, kami ada perlu denganmu.”
“Hah? Bicara apa kau? Berani buang-buang waktuku hah?”
“Sudah Shin, Kitamura-kun..”, potong Sakura.
“Ha, Harune-san?!”, kataku tergagap.
“Kitamura-kun, kamu sekarang mau pergi makan siang kan? Kalau gitu bareng dengan kami saja!”

Kata-kata itu membuatku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya menjawab dengan anggukan, dan... Sepertinya wajahku panas...

Akhirnya aku ikut dengan mereka, 5 orang itu, menuju ke sebuah kafe yang belum pernah kulihat sebelumnya. Nama kafe itu adalah ‘Pink Petal’, yang sekarang menjadi tempat biasa untuk kami. Saat itu untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki disana. Yang lebih hebat, kafe ini masih dikelilingi dengan pohon sakura yang masih mekar.
“Su... Sugoii... Tempat ini... Aku baru tahu...”, kataku terkagum-kagum.
“Ya kan? Tempat ini memang bagus sekali. Kami menemukan tempat ini minggu lalu.”

Entah kenapa aku tergerak dengan keindahan bunga sakura ini, walalupun aku bukanlah penggemar benda-benda seperti itu. Rasanya bunga ini benar-benar mirip dengan Harune-san, orang yang benar-benar mencerminkan musim semi, hangat dan indah.

---------

Esoknya, aku pergi kesekolah lebih awal daripada sebelumnya, tepat sebelum bel berbunyi. Aku merasa tubuhku agak ringan, langkahku rasanya bisa lebih cepat, dan aku melakukannya.

Dan hari ini aku—kami—pergi ke tempat itu lagi. Dan juga hari-hari berikutnya hingga tak terasa musim semi berikutnya tiba. Aku sudah berubah karena mereka, Sakura dan yang lainnya. Aku sudah tidak pernah membolos, datang telat ataupun mengajak berkelahi murid lain. Semuanya terasa ajaib.

Musim semi keduaku di sekolah ini, artinya aku akan memasuki kelas yang baru. Aku berharap bisa satu kelas dengan Sakura dan yang lainnya.

Harapanku terkabul. Aku sekelas lagi dengan Sakura dan Kazuki—ya, hanya mereka berdua, yang lain tersebar di berbagai kelas, 2-A, dan 2-C. Aku berharap tahun ini menjadi tahun yang lebih baik.

---------

... Entahlah sudah berapa lama aku merasakan perasaan ini, tapi mungkin semenjak pertama kali dia menyapaku, namun aku baru menyadarinya sekarang...

----------

Tahun baru sudah terlewati. Sepertinya aku makin lama makin sering memeprhatikannya. Dan setiap kali aku berdua dengannya jantungku berdegup kencang, padahal sebelumnya tidak, lagipula... Bukankah dia sudah punya orang itu? Dan lagi dia sangat senang jika bersama dengan orang itu, kupikir tidak ada celah untukku masuk kedalam...

... Berminggu-minggu aku lalui, tidak ada perkembangan, walau aku sudah mengetahui bahwa dai tidak menyukai Kazuki atau sebaliknya. Tapi aku sudah memutuskan, aku akan menyatakan perasaanku kepadanya, setelah ujian tengah semester ini selesai...

------------

“Ryo-kun...”, Suara Sakura datang dari belakangku.
“Ah, Sakura... Kau datang...”
“Umh... Terus... Apa yang ingin kau bicarakan?”
“Sakura, aku akan memberikan pertanyaan, dan kamu hanya perlu menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’. Jika kau memilih ‘ya’ maka, lakukanlah. Tapi, kalau kau memilih ‘tidak’ aku akan kembali seperti dulu lagi... Tapi aku ingatkan satu hal. Jawab pertanyaan ini sejujurnya, sesuai dengan apa yang ingin kau jawab, jangan karena terpaksa atau apapun...”
“... Hah? Ah, ya baiklah...”
“Sakura! Aku menyukaimu. Maukah kamu menjadi pacarku?”
Aku melihat kearah Sakura sebentar. Ekspresinya seperti yang kuduga, terkejut, tapi aku melihat kewajahnya sekali lagi, wajahnya berubah menjadi agak merah... Bahkan air matanya mulai menetes. Apa aku keterlaluan? Apa karena aku temannya?
“... Sakura?”
“Hiks... Ryo...”
Untuk pertama kalinya aku melihatnya seperti ini. Sebaiknya aku harus menenangkannya, pertama-tama cari tempat duduk dulu...
“... Ada apa, Sakura?”
“... Ti-dak, hanya saja... Rasanya aku pernah melihat hal yang mirip seperti itu juga... Tapi kata-katanya berbeda... Rasanya sangat mengerikan... Aku, aku...Hiks...”
Air matanya mulai menetes kembali.
“Sebaiknya aku tidak usah terlalu mengusik tentang hal ini...”, pikirku.
“... Itu terjadi saat aku masih SMP... Dia orang yang kusukai dulu, dia adalah ketua OSIS yang beik terhadap semua orang... Tapi, ternyata aku... Salah.”
... Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin mendengarnya tapi aku juga tidak tega.
“Dia itu penjahat. Dia hanya ingin tubuh perempuan saja, bukan perasaan. Aku baru mengetahui hal itu setelah... Terjadi kejadian yang mirip seperti tadi, saat itu aku yang menyatakan perasaanku. Aku masih mengingat wajahnya saat itu, senyum licik seperti iblis. Aku gak tahan.”
“...”, Aku tidak dapat melakukan hal apapun selain mendengar...
“Dia... Perlahan mendekatiku, menggenggam kedua lenganku sangat erat, dia... Emndorongku hinggga tersudut dan tidak bisa bergerak sama sekali. Dan... kau bisa tebak apa yang dia lakukan, bukan?”
Aku mengepalkan tangaku dengan sangat erat, bahkan aku merasa telapak tangaku sedikit basah dan sakit karena berdarah. Aku sama sekali tidak tahu, kalau Sakura punya masa lalu seperti itu.
“Tapi, untungnya sebelum dia berhasil melakukan itu, dia, Shin, datang. Menyelamatkanku. ... Semenjak itu aku tidak bisa percaya dengan laki-laki lain selain Shin dan keluargaku.”
“Kalau begitu kenapa? Kenapa kamu mengajakku bicara? Bukankah kau tahu, aku ini seorang pengacau? Kenapa..?”
“... Aku tahu, karena kau bukanlah ‘serigala berbulu domba’ melainkan ‘domba berbulu serigala’... Heheh...”
“Gimana kalau ternyata dugaanmu salah? Kau bisa saja berakhir seperti itu juga!”
“Aku tahu kalau dugaanku bisa salah, makanya...”
*Srek*
Seseorang keluar dari balik semak-semak itu.
“... Aku mengajaknya kesini...”
“Yo!”
“....... KA-ZU-KI... SA-KU-RA...”, kataku nyaris meledak.
“Ya?”, jawab mereka berbarengan.
“Kenapa kau bawa-bawa orang ini, Sakura?! Bukankah aku bilang aku mau bicara sesuatu yang sangaaat penting? Berdua!”, lanjutku yang sudah meledak.
“Soalnya—”
“Dan lagi kau Kazuki! Ngapain sembunyi ditempat kayak gitu heh?! Cari tempat sembunyi yang lebih bagus kek supaya aku bisa ngebentakmu duluan!! Kalian berdua...!!”
“Maaf...”, kata mereka berbarengan lagi.
“Hah, hah... Moodnya jadi hancur nih...”, kataku mereda dan kembali duduk.
“Maaf lagi...”
“Ya udah... Kazuki kau udah denger berarti kan yang kubilang tadi? Dan, sekarang kau mau denger juga jawabannya?”
“Boleh aja sih... Tapi tergantung Sakura.”
“... Shin... Kamu duluan aja deh... Gak enak juga jadinya nih...”
Bagus...
“Ya udah deh, aku duluan—pulang ya!”, lalu dia melangkah pergi.
Serangga sudah berhasil di singkirkan.
“Jadi, jawabanmu...?”
“... Cerita lagi boleh nggak?”, dia menyenderkan kepalanya dibahuku.
“... Boleh aja sih.”
“... Kau tau gak sih, saat kamu absen sehari karena izin, legenda itu terjadi lho...”
Legenda? Ah... Itu.
“... Waktu itu, saat angin sedang bertiup kencang, selembar kelopak bunga sakura jatuh ke teh yang sedang kuminum. Dan... Kelopak bunga itu hilang, tercampur dengan tehku. Kau ingin tahu apa permintaanku itu?”
Aku menjawab dengan mengangguk.
“Aku minta, ‘agar aku dan Ryo bsia lebih dari teman.’ Itulah permintaanku, Ryo.”
... Gawat, sepertinya mukaku panas... Ber, berarti dugaanku yang dulu, dulu itu salah? Kan waktu aku absen dulu itu pas... seminggu setelah aku mulai berteman dengan mereka? Gaaaahhh!!!
“... Jadi, kau sudah tahu kan jawabannya?”
“... Terimakasihatasjawabanmu...”
“Hahah... Omonganmu lucu.”
“Ha-ha-hah... Terimakasih.”
Sepertinya aku merasa tangannya menggenggam tanganku yang tadi terluka, walau sekarang sudah tidak. Dan, aku berharap saat ini tidak pernah berakhir.

~Fin~

5 comments:

  1. ahahaha...

    lanjuta yang ada di fb ya? :)

    ReplyDelete
  2. yep ;9
    nanti bakalan ada arc berikutnya~~

    ReplyDelete
  3. nggak sabar menunggu!

    nggomong2, di Jepang sekarang sedang musim apa ya?

    ReplyDelete
  4. di Jepang? seharusnya sih musim semi...

    ReplyDelete

Next Post Previous Post Home